Senin, 01 September 2014

Cinta itu Seperti Mentari bukan Pelangi #Part II

          Hari ini kampus lagi ngadain acara musik sampai malam hari. Kabarnya yang ngadain acara ini anak-anak dari fakultas Teknik. Aku udah janjian juga sama Milly dan beberapa teman sekelasku untuk datang keacara itu. Aku pun bersiap-siap sambil memilah-milah isi lemariku mencari pakaian yang cocok untuk kukenakan nanti. Setelah mencoba beberapa baju aku memantapkan hati untuk mengenakan dress selutut berwarna hitam dengan ikat pinggang berbentuk pita. Lalu kupanaskan alat catok dan mulai mencatok rambutku. Setelah merasa cukup dengan tatanan rambutku, aku mulai memoles wajahku dengan make up yang cukup natural dan tidak berlebihan. Blus on berwarna pink. Eyes shadow berwarna senada dengan bibirku, yaitu pich. Kusemprotkan parfum favoritku disekitar telinga,leher, dan pergelangan tanganku. Jam menunjukkan pukul 19.00 aku pun bergegas memakai wedges berwarna pink untuk menyempurnakan penampilanku. Aku terlihat anggun dan begitu feminim.
“tinnn...tinnn...”
Suara mobil Milly pun terdengar di depan rumahku. Aku lalu berpamitan kepada ibuku dan keluar menuju mobil Milly. Malam ini Milly sengaja membawa mobil sendiri karena gak mungkinkan kita udah cantik-cantik gini naik motor.
Milly terlihat sangat anggun dengan dress berwarna biru tosca. Rambut yang dikepang setengah serta dihiasi jepit kupu-kupu yang cantik. Sahabatku ini memang begitu cantik dan anggun.
Sesampainya di parkiran kampus terlihat sudah banyak orang disana. Suasananya begitu meriah. Dengan dekorasi lampu-lampu kecil disekiling area kampus. Beberapa lampion pun menghiasi sekitar taman kampus. Panggung yang cukup besar lengkap dengan alat musik di atasnya dan beberapa orang yang sedang test on. Orang-orang yang datang pun terlihat sangat menawan. Para wanita mengenakan dress yang begitu anggun. Para pria dengan kemejanya, celana chino, dan sepatu boots yang membuat mereka terlihat menawan. Suasana malam ini semakin meriah ketika MC dengan tampilan menawan mengenakan kemeja putih berdasi hitam dengan celana jeans dan sepatu boots yang keren, lalu rambut sedikit klimis mulai membuka acara musik ini. Sorak para penonton pun semakin pecah ketika band kampus kami membuka dengan membawakan lagu bertema party malam itu. Dan jika tidak salah lihat salah satu personil band itu tidak asing buatku. Ya mereka memang cukup terkenal dikalangan kampus tapi yang satu ini personil baru dibagian drum. Iya aku mengenalinya. Ia pria yang ku temui di toko buku dan koridor kampus waktu itu. Dia terlihat sangat tampan mengenakan kemeja hitamnya. Senyumnya membuatku meleleh. Siapa ya dia? Ko dia bisa jadi drummer band kampus. Setelah membawakan dua buah lagu para penonton pun berteriak memanggil masing-masing personil yang mereka kagumi. Dan satu nama yang baru saja ku dengar. Dimas. Ya nama itu baru ku dengar diantara personil yang aku tahu. Apa iya itu drummer baru mereka bernama Dimas? .
Setelah melihat beberapa band tamu aku dan Milly ke stand makanan untuk mencari makanan karena perut kami sudah bersorak tak kalah dengan hebohnya para penonton di acara ini. Ketika asik duduk di bangku yang disediakan panitia untuk sekedar makan dan berbincang-bincang, kembali Milly melakukan hal yang Ia lakukan ketika di restoran waktu itu. Mencubit tanganku dan memanglingkan wajahku.
“ Bil.. liat deh itukan personil barunya band kampus kita tau, denger-denger ya dia itu mahasiswa pindahan gitu dari bandung, anak teknik industri katanya. Ganteng ya. Cool banget liat deh senyumnya bil..”, sambil meremas tanganku Milly terlihat begitu terpukau dengan pria disebrang sana yang sedang berbincang dengan beberapa panitia acara. Dan aku hanya melamun memandanginya. Ya aku terpesona dengan rupanya. Kembali jantung ini berdetak kencang. Apa iya aku menyukainya? Pria yang ku temui di toko buku, koridor kampus, dan kini di acara musik kampus. Tapi apa iya? Ah sepertinya tidak.
Beberapa saat kemudian Milly meminta izin untuk ke stand temannya, katanya mau bantu-bantu gitu deh. Dan akhirnya aku sendiri duduk dibawah lampu-lampu lampion yang digantung di pepohonan. Begitu cantik. Hingga tiba-tiba terdengar suara seseorang berbicara dibelakangku. Suara yang serak dan berat. Ya suara laki-laki. Aku pun menoleh ke belakang.
“ Hay, boleh duduk disini?”, aku pun terkejut dan menganggukkan kepalaku. Lalu Ia duduk disampingku dengan membawa segelas coffe. Senyumnya kembali membuatku berdetak. Wajahku tiba-tiba memerah dan tersipu malu. Tanganku terasa dingin. Aku menjadi salah tingkah ketika Ia mulai mengajakku berbincang.
“Oiya kita udah sempat ketemukan beberapa waktu lalu?”, Ia mencoba membuka perbincangan.
“ Iya di toko buku dan koridor kampus. Gak nyangka ya lo anak kampus sini ternyata dan kebetuan kita bisa ketemu lagi disini.”
“ Iya gua juga gak nyangka bisa ketemu lo lagi. Kenalin gue Dimas. Mahasiswa baru jurusan Teknik Industri”, sambil mengulurkan tangannya Ia memperkenalkan diri.
“ Gue Nabila. Panggil aja Billa. Anak manajemen keuangan. Gak nyangka bisa kenalan sama drummer band paling terkenal di kampus, hehehe”
“ Nabilla. Nama yang bagus. Ah itu Cuma kebetulan aja. Personil yang lama kakinya cidera dan didiagnosa gak bisa main drum dulu buat beberapa bulan kedepan dan kebetulan gua hobi main drum terus diajak gabung sama Tino (Vokalis band kampus) jadi drummer mereka”.
“ Oh si Bimbim cidera. Gua baru tau, duh kasian juga ya gak bisa main drum lagi. Oiya lu pindahan dari mana emang?.” Aku pun mulai kepo nanya-nanya tentang dia. hehehe
“ Gue asli Bandung. Gue pindah kesini gara-gara nyokap gua sakit dan harus dirawat dijakarta jadi keluarga gua pindah kesini semua. Berhubung gue anak cowok satu-satunya dikeluarga jadi gue gak bisa tetep di Bandung kasian gak ada yang jaga nyokap entar”.
Duh ini cowok idaman banget sih. Udah cakep. Baik. Berbakti sama orang tua lagi. Jadi makin suka deh. Ehh apa-apaan sih? Gak gak boleh.
“ Oh jadi lo pindah kesini gara-gara nyokap lo harus berobat disini. Kalo boleh tau sakit apa nyokap lo?. Sorry ni jadi kepo gue”.
“ Ya nanti lo juga tau. Next kalo kita ketemu dan ngobrol kaya gini lagi gue bakal cerita deh. Oiya boleh minta pin lo? Gue harus balik ke panggung ni,”
OMG dia minta pin aku. Saat itu wajahku pun tersipu malu. Senyum gembira terpancar dibibirku dan tak dapat lagi kubendung.
“ Oke next time ya. Nih pin gue. 767Dxxxx  . yaudah kalo gitu gue juga mau nyamperin temen gue juga nih. See u ya.”
Dan itu awal dari perkenalanku dengan Dimas personil band populer di kampus. Setelah Dimas pergi aku pun menghampiri Milly dengan wajah yang begitu bahagia seakan baru saja menang lotre. Milly heran melihatku tersenyum-senyum dari kejauhan.
“ Idih, Bil lo kenapa? Lo sehat-sehat ajakan? Lo gak kesurupankan?”, sambil menepuk pipiku Milly mencoba mencari tahu apa yang membuatku begitu bahagia.
“ Mau tau aja deh lo. Nanti deh gue ceritain. Pasti lo kaget dan gak nyangka deh dengernya. Udah yuk gue mau liat penutupan nih band kampus tampil lagi tuh”, aku pun menarik tangan Milly menuju depan panggung. Terlihat diatas panggung sudah siap para personil band kampus kami dan siap menyanyikan lagu penutup acara malam ini. Di sudut panggung terlihat pria yang tadi berbincang denganku siap dengan stick drumnya. Lagupun dinyanyikan. Para penonton bersorak. Terlebih lagi para wanita-wanita disini begitu antusias sekali. Suara gitar dan bass mengawali lagu bertema perpisahan itu diikuti intro drum yang membuat suasana malam ini begitu semakin meriah bersorak suara para penonton. Acara musik kampus benar-benar berjalan sangat sukses sekali. Salut sama anak-anak Teknik yang ngadain acara ini deh.
Tak terasa sudah larut malam. Jam menunjukkan pukul 23.30. Aku dan Milly pun bergegas pulang. Sepanjang perjalanan aku hanya dapat tersenyum mengingat perkenalanku dengan Dimas tadi. Milly yang memperhatikanku pun mencolekku dan mulai mengintrogasiku seakan-akan aku terdakwa sebuah kasus pembunuhan.
“Nabila.. sumpah gue takut lo kesambet deh, lo kenapa sih dari tadi gue liat senyum-senyum sendiri gitu. Oiya katanya lo mau cerita tadi sama gue. Ayo cerita ah”, Milly pun memperlambat laju mobilnya. Jalanan sudah terlihat sangat sepi berhubung sudah larut malam jadi hanya ada beberapa kendaraan yang melintas dijalan ini.
“Tapi lo jangan kaget ya dengernya. Nih gue beberapa hari lalu gue ketemu cowok di toko buku. Manis. Cool abis. Dan lo tau gue ketemu dia lagi di koridor kampus beberapa waktu lalu..”
“Jadi dia anak kampus kita juga? Siapa? Jurusan apa? Apa gue kenal? Ayo dong gue penasaran”, jawab Milly yang tak sabar mendengar kelanjutan ceritaku. Akupun kembali bercerita dengan wajah yang mulai memerah dan jantungku ikut berdetak kencang ketika membayangkan wajah Dimas.
“ Tadi gue ketemu dia lagi di acara kampus. Dia salah satu personil band kampus. Drummer baru tepatnya. Dimas.”
Tiba-tiba Milly mengerem mendadak. Wajahnya terlihat kaget seakan tak percaya apa yang baru saja Ia dengar. Dengan wajah yang terheran-heran Ia mendekatkan wajahnya kepadaku. Lalu Ia tertawa terbahak-bahak.
“ Bila.. lo mabok ya. Atau jangan-jangan lo ngigo? Mana mungkin drummer sekeren Dimas mau kenalan sama cewe biasa kaya kita. Gak mungkinlah”, udah kuduga Milly pasti takkan percaya dengan apa yang aku katanyakan. Akupun terdiam menatap keluar jendela mobil. Milly kembali menjalankan mobilnya dan melesat pulang.
Sampainya dirumah aku membersihakan diri kemudian berbaring menatap layar ponselku berharap Dimas mengundangku di BBM. Hingga kutertidur dan aku terbangun mendengar suara ibuku mengetuk pintu kamarku. Dengan mata masih terpejam aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarku.
“ Apa sih maa? Inikan hari minggu. Aku masih nagntuk”, lalu aku kembali menuju kasur dan berbaring sambil menarik selimut menutupi tubuhku.
“ Bilaa.. mama harus ke kantor pusat hari ini dan sepertinya mama pulang larut malam, kamu sendiri dirumah gapapa kan? Tapi mama udah siapin sarapan buat kamu ya. Ingat kunci pintu kalo mauu keluar ya”, setelah mengecup keningku ibuku keluar kamar dan kembali menutup pintu kamarku.
Tak terasa sudah siang hari. Matahari tersenyum terang sekali. Kulihat jam menunjukkan pukul 10 . Lalu aku bangkit dan bergegas mandi. Selesai mandi akupun berjalan ke meja makan, membuka tutup saji berwarna putih bermotif bunga dengan renda disekelilingnya. Diatas mangkuk nasi sudah tersaji nasi goreng lengkap dengan sosis dan telur ceplok di piring sampingnya. Aku ambil piring dan beberapa sendok nasi goreng lalu mulai makan. Selesai makan aku kembali ke kamar dan mengecek ponselku. Aku melihat beberapa sms dan beberapa BBM. Lalu ketika kubuka salah satunya ada undangan BBM dari Dimas. Aku tak percaya. Aku kembali membacanya. Mengucek mataku. Ternyata benar itu Dimas. Aku menerima undangannya. Tak beberapa lama sebuah chat masuk ke ponselku.
Dimas : PING !!!
Nabila : Hay :)
Dimas : Hay Bila. Lagi apa?
Nabila : Gue lagi dikamar aja ini. Lo lagi apa?
Dimas : Gue mau nengokin nyokap nih, hari ini ada acara? Mau nemenin gue gak?
Nabila : Gak ada. Kemana? Boleh .
Dimas : Yaudah gue jemput ya sekarang. Rumah lo dmn?
Nabila : Gak usah kita janjian aja di Margonda Raya. Nanti lo jemput gue disitu aja ya setengah jam lagi deh. Gimana?
Dimas : Margonda ya? Oke. Setengah jam lagi gue disana. See u ya :)
Wow!! Dimas ngajak jalan. Rasanya tuh bener-bener kaya menang lotre ratusan juta bahkan lebih. Seneng banget. Pake baju apa yah? Hemm..
Selesai siap-siap aku pun berangkat ke tempat janjian sama Dimas tadi. Kurang lebih 15 menit aku sampai. Dan dari kejauhan aku melihat seorang pria berkemeja denim dengan celana jeans dan sepatu boots. Ia pun melihat kearahku dan melambaikan tangan kepadaku. Aku membalasnya dan berlari kecil kearahnya. Dengan mengenakan baju semi dress berwarna hijau tosca dengan sepatu wedges berwarna senada. Rambut yang terurai dengan bandana dikepalaku menambah anggunnya penampilanku hari ini. Pria ini menatapku beberapa detik tak berkedip. Lalu senyum mengembang di wajahnya.
“ Hari ini lo terlihat manis”, sambil tersipu Ia menatapku dan mempersilahkanku masuk kedalam mobilnya.
“ Mau kemana emangnya kita, Dim?”
“Nanti juga lo tau Bil, gue mau nyulik lo?”, dengan wajah yang berubah menjadi serius Dimas melirikku. Seketika jantungku derdetak. Wajahku pucat. Tanganku gemetar. Lalu Dimas pun tertawa terbahak-bahak melihat wajah pucatku. Sambil mengusap kepalaku dengan tangan kirinya Ia tersenyum dan menenangkanku.
“ Tenang aja gue gak ada niat jahat ko sama lo, gue mau ngajak lo ketemu nyokap gue. Gapapa kan? Lo mau kan?”, akupun menghela nafas lega. Dan menganggukkan kepala tanda menyetujuinya. Ia kembali menyetir mobil. Dari dekat dia terlihat sangat manis dan menawan. Benar-benar sosok pria idaman banget. Sekitar setengah jam kami dalam perjalanan menelusuri kota jakarta kami tiba disalah satu rumah sakit Jantung di Jakarta. Kemudian kami masuk kearea parkir rumah sakit itu. Dimas pun membukakan pintu dan mempersilahkanku turun. Kami berjalan menuju loby rumah sakit. Menaiki lift. Dimas menekan tombol tantai 7. Lift pun terbuka ketika menunjukkan angka 7. Kami keluar dan menuju sebuah kamar. Membuka pintu. Dan terlihat seorang wanita separuh baya terbaring lemah disana. Melihat siapa yang datang senyum mengembang diwajahnya seakan menyambut kedatangan kami. Dengan suara parau Ia memanggil nama anak laki-lakinya.
“ Dimas sama siapa kamu? Tidak biasanya kamu membawa teman kemari. Apa dia pacarmu? Cantik. Ayo sini kenalkan kepada mama”, Dimas pun menghampirinya dan memeluk serta mengecup kening wanita itu yang tak lain adalah ibunya.
“ Bukan ma, dia teman kampus Dimas. Namanya Nabila”, sambil menggandeng tanganku mendekati tempat berbaring ibunya Ia mengenalkanku. Aku pun tersenyum dan memperkenalkan diriku kedapanya.
“ Selamat siang tante. Saya Bila teman kampus Dimas. Tante terlihat cantik dan awet muda ya”, ibu Dimas memang terlihat cantik dan awet muda terlihat dari pipinya yang masih kencang.
“ Kamu bisa aja Bil, tante jadi malu. Hehe”, kami pun berbincang-bincang bersama sampai tak terasa hari sudah mulai sore. Aku dan Dimas pun pamitan untuk pulang.
“ Maa..Dimas antar Bila pulang dulu ya, nanti malam Dimas nemenin mama lagi. Mama jangan lupa obatnya diminum ya. Nanti Dimas cek pokonya obatnya.”
“ Iya Dimas. Gini ni Bil, Dimas emang cerewat kalo sama tante mah, kaya nenek-nenek.” Wajah Dimas lalu memerah ketika digoda oleh ibunya.
“ Ih mama.. jangan gitu dong kan malu sama Nabila. Mama mah. Yaudah Dimas pergi dulu ya ma.” Sambil mengecup kening ibunya aku dan Dimas pamit untuk pulang.
“ Saya pulang dulu ya tante nanti saya main lagi kesini temenin tante.” Lalu kami pun keluar menuju lantai dasar terlihat beberapa suster mondar-mandir disepanjang koridor rumah sakit. Kami memasuki lift dan turun kelantai dasar. Ketika lift terbuka dan ketika kami jalan menuju loby kami berpapasan dengan seorang pria berpostur tinggi besar dan wajahnya sedikit oriental. Pria separuh baya itu menyapa kami.
“ Kamu mau kemana? Gimana dengan ibumu apa dia baik-baik saja?”, terlihat dari raut wajah pria itu, raut kekhawatiran akan kondisi ibu Dimas. Wajahnya mirip dengan Dimas, mata sipit Dimas sepertinya turunan dari pria ini. Ya tentu saja. Pria itu adalah ayahnya Dimas. Namun anehnya wajah Dimas terlihat datar dan terlihat tak begitu suka akan kedatangan pria itu ke rumah sakit ini.
“ Mau apalagi anda kemari? Mama saya sedang istirahat. Beliau tak butuh dijenguk oleh orang seperti anda. Orang yang membuatnya terbaring sakit disini”, sebelum pria itu menjawab dan menjelaskan kedatangannya, Dimas berjalan dan menarik tanganku menjauhi pria itu seakan tidak ingin berlama-lama bertemu dengannya. Kami pun menuju parkiran. Ia membukakanku pintu dan masuk duduk dibelakang kemudi. Ia menundukan kepalanya. Terlihat jelas wajah kekecewaan. Aku tak berani untuk menanyakannya. Aku hanya dapat memandanginya saja dan mengusap lembut pundaknya. Lalu Ia menatapku tajam. Ia memelukku. Memelukku erat seakan baru saja terpukul batinnya. Ia menangis dipelukkanku. Aku terdiam. Jantung ini berdetak kencang. Kuusap punggungnya untuk menenangkan keadaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar