Hari ini kampus lagi ngadain acara musik sampai malam hari.
Kabarnya yang ngadain acara ini anak-anak dari fakultas Teknik. Aku udah
janjian juga sama Milly dan beberapa teman sekelasku untuk datang keacara itu.
Aku pun bersiap-siap sambil memilah-milah isi lemariku mencari pakaian yang
cocok untuk kukenakan nanti. Setelah mencoba beberapa baju aku memantapkan hati
untuk mengenakan dress selutut berwarna hitam dengan ikat pinggang berbentuk
pita. Lalu kupanaskan alat catok dan mulai mencatok rambutku. Setelah merasa
cukup dengan tatanan rambutku, aku mulai memoles wajahku dengan make up yang
cukup natural dan tidak berlebihan. Blus on berwarna pink. Eyes shadow berwarna
senada dengan bibirku, yaitu pich. Kusemprotkan parfum favoritku disekitar telinga,leher,
dan pergelangan tanganku. Jam menunjukkan pukul 19.00 aku pun bergegas memakai
wedges berwarna pink untuk menyempurnakan penampilanku. Aku terlihat anggun
dan begitu feminim.
“tinnn...tinnn...”
Suara mobil Milly pun
terdengar di depan rumahku. Aku lalu berpamitan kepada ibuku dan keluar menuju
mobil Milly. Malam ini Milly sengaja membawa mobil sendiri karena gak
mungkinkan kita udah cantik-cantik gini naik motor.
Milly terlihat sangat
anggun dengan dress berwarna biru tosca. Rambut yang dikepang setengah serta
dihiasi jepit kupu-kupu yang cantik. Sahabatku ini memang begitu cantik dan
anggun.
Sesampainya di parkiran
kampus terlihat sudah banyak orang disana. Suasananya begitu meriah. Dengan
dekorasi lampu-lampu kecil disekiling area kampus. Beberapa lampion pun
menghiasi sekitar taman kampus. Panggung yang cukup besar lengkap dengan alat
musik di atasnya dan beberapa orang yang sedang test on. Orang-orang yang datang
pun terlihat sangat menawan. Para wanita mengenakan dress yang begitu anggun.
Para pria dengan kemejanya, celana chino, dan sepatu boots yang membuat mereka
terlihat menawan. Suasana malam ini semakin meriah ketika MC dengan tampilan
menawan mengenakan kemeja putih berdasi hitam dengan celana jeans dan sepatu
boots yang keren, lalu rambut sedikit klimis mulai membuka acara musik ini.
Sorak para penonton pun semakin pecah ketika band kampus kami membuka dengan
membawakan lagu bertema party malam itu. Dan jika tidak salah lihat salah satu
personil band itu tidak asing buatku. Ya mereka memang cukup terkenal
dikalangan kampus tapi yang satu ini personil baru dibagian drum. Iya aku
mengenalinya. Ia pria yang ku temui di toko buku dan koridor kampus waktu itu.
Dia terlihat sangat tampan mengenakan kemeja hitamnya. Senyumnya membuatku meleleh.
Siapa ya dia? Ko dia bisa jadi drummer band kampus. Setelah membawakan dua buah
lagu para penonton pun berteriak memanggil masing-masing personil yang mereka
kagumi. Dan satu nama yang baru saja ku dengar. Dimas. Ya nama itu baru ku
dengar diantara personil yang aku tahu. Apa iya itu drummer baru mereka bernama
Dimas? .
Setelah melihat beberapa
band tamu aku dan Milly ke stand makanan untuk mencari makanan karena perut
kami sudah bersorak tak kalah dengan hebohnya para penonton di acara ini.
Ketika asik duduk di bangku yang disediakan panitia untuk sekedar makan dan
berbincang-bincang, kembali Milly melakukan hal yang Ia lakukan ketika di
restoran waktu itu. Mencubit tanganku dan memanglingkan wajahku.
“ Bil.. liat deh itukan
personil barunya band kampus kita tau, denger-denger ya dia itu mahasiswa
pindahan gitu dari bandung, anak teknik industri katanya. Ganteng ya. Cool
banget liat deh senyumnya bil..”, sambil meremas tanganku Milly terlihat begitu
terpukau dengan pria disebrang sana yang sedang berbincang dengan beberapa
panitia acara. Dan aku hanya melamun memandanginya. Ya aku terpesona dengan
rupanya. Kembali jantung ini berdetak kencang. Apa iya aku menyukainya? Pria
yang ku temui di toko buku, koridor kampus, dan kini di acara musik kampus. Tapi
apa iya? Ah sepertinya tidak.
Beberapa saat kemudian
Milly meminta izin untuk ke stand temannya, katanya mau bantu-bantu gitu deh.
Dan akhirnya aku sendiri duduk dibawah lampu-lampu lampion yang digantung di
pepohonan. Begitu cantik. Hingga tiba-tiba terdengar suara seseorang berbicara
dibelakangku. Suara yang serak dan berat. Ya suara laki-laki. Aku pun menoleh
ke belakang.
“ Hay, boleh duduk
disini?”, aku pun terkejut dan menganggukkan kepalaku. Lalu Ia duduk
disampingku dengan membawa segelas coffe. Senyumnya kembali membuatku berdetak.
Wajahku tiba-tiba memerah dan tersipu malu. Tanganku terasa dingin. Aku menjadi
salah tingkah ketika Ia mulai mengajakku berbincang.
“Oiya kita udah sempat
ketemukan beberapa waktu lalu?”, Ia mencoba membuka perbincangan.
“ Iya di toko buku dan
koridor kampus. Gak nyangka ya lo anak kampus sini ternyata dan kebetuan kita
bisa ketemu lagi disini.”
“ Iya gua juga gak nyangka
bisa ketemu lo lagi. Kenalin gue Dimas. Mahasiswa baru jurusan Teknik
Industri”, sambil mengulurkan tangannya Ia memperkenalkan diri.
“ Gue Nabila. Panggil aja
Billa. Anak manajemen keuangan. Gak nyangka bisa kenalan sama drummer band
paling terkenal di kampus, hehehe”
“ Nabilla. Nama yang bagus.
Ah itu Cuma kebetulan aja. Personil yang lama kakinya cidera dan didiagnosa gak
bisa main drum dulu buat beberapa bulan kedepan dan kebetulan gua hobi main
drum terus diajak gabung sama Tino (Vokalis band kampus) jadi drummer mereka”.
“ Oh si Bimbim cidera. Gua
baru tau, duh kasian juga ya gak bisa main drum lagi. Oiya lu pindahan dari
mana emang?.” Aku pun mulai kepo nanya-nanya tentang dia. hehehe
“ Gue asli Bandung. Gue
pindah kesini gara-gara nyokap gua sakit dan harus dirawat dijakarta jadi
keluarga gua pindah kesini semua. Berhubung gue anak cowok satu-satunya
dikeluarga jadi gue gak bisa tetep di Bandung kasian gak ada yang jaga nyokap
entar”.
Duh ini cowok idaman
banget sih. Udah cakep. Baik. Berbakti sama orang tua lagi. Jadi makin suka
deh. Ehh apa-apaan sih? Gak gak boleh.
“ Oh jadi lo pindah kesini
gara-gara nyokap lo harus berobat disini. Kalo boleh tau sakit apa nyokap lo?.
Sorry ni jadi kepo gue”.
“ Ya nanti lo juga tau.
Next kalo kita ketemu dan ngobrol kaya gini lagi gue bakal cerita deh. Oiya
boleh minta pin lo? Gue harus balik ke panggung ni,”
OMG dia minta pin aku.
Saat itu wajahku pun tersipu malu. Senyum gembira terpancar dibibirku dan tak
dapat lagi kubendung.
“ Oke next time ya. Nih
pin gue. 767Dxxxx . yaudah kalo gitu gue
juga mau nyamperin temen gue juga nih. See u ya.”
Dan itu awal dari perkenalanku
dengan Dimas personil band populer di kampus. Setelah Dimas pergi aku pun
menghampiri Milly dengan wajah yang begitu bahagia seakan baru saja menang
lotre. Milly heran melihatku tersenyum-senyum dari kejauhan.
“ Idih, Bil lo kenapa? Lo
sehat-sehat ajakan? Lo gak kesurupankan?”, sambil menepuk pipiku Milly mencoba
mencari tahu apa yang membuatku begitu bahagia.
“ Mau tau aja deh lo.
Nanti deh gue ceritain. Pasti lo kaget dan gak nyangka deh dengernya. Udah yuk
gue mau liat penutupan nih band kampus tampil lagi tuh”, aku pun menarik tangan
Milly menuju depan panggung. Terlihat diatas panggung sudah siap para personil
band kampus kami dan siap menyanyikan lagu penutup acara malam ini. Di sudut
panggung terlihat pria yang tadi berbincang denganku siap dengan stick drumnya.
Lagupun dinyanyikan. Para penonton bersorak. Terlebih lagi para wanita-wanita
disini begitu antusias sekali. Suara gitar dan bass mengawali lagu bertema
perpisahan itu diikuti intro drum yang membuat suasana malam ini begitu semakin
meriah bersorak suara para penonton. Acara musik kampus benar-benar berjalan
sangat sukses sekali. Salut sama anak-anak Teknik yang ngadain acara ini deh.
Tak terasa sudah larut
malam. Jam menunjukkan pukul 23.30. Aku dan Milly pun bergegas pulang. Sepanjang
perjalanan aku hanya dapat tersenyum mengingat perkenalanku dengan Dimas tadi.
Milly yang memperhatikanku pun mencolekku dan mulai mengintrogasiku seakan-akan
aku terdakwa sebuah kasus pembunuhan.
“Nabila.. sumpah gue takut
lo kesambet deh, lo kenapa sih dari tadi gue liat senyum-senyum sendiri gitu.
Oiya katanya lo mau cerita tadi sama gue. Ayo cerita ah”, Milly pun
memperlambat laju mobilnya. Jalanan sudah terlihat sangat sepi berhubung sudah
larut malam jadi hanya ada beberapa kendaraan yang melintas dijalan ini.
“Tapi lo jangan kaget ya
dengernya. Nih gue beberapa hari lalu gue ketemu cowok di toko buku. Manis.
Cool abis. Dan lo tau gue ketemu dia lagi di koridor kampus beberapa waktu
lalu..”
“Jadi dia anak kampus kita
juga? Siapa? Jurusan apa? Apa gue kenal? Ayo dong gue penasaran”, jawab Milly
yang tak sabar mendengar kelanjutan ceritaku. Akupun kembali bercerita dengan
wajah yang mulai memerah dan jantungku ikut berdetak kencang ketika membayangkan
wajah Dimas.
“ Tadi gue ketemu dia lagi
di acara kampus. Dia salah satu personil band kampus. Drummer baru tepatnya.
Dimas.”
Tiba-tiba Milly mengerem
mendadak. Wajahnya terlihat kaget seakan tak percaya apa yang baru saja Ia
dengar. Dengan wajah yang terheran-heran Ia mendekatkan wajahnya kepadaku. Lalu
Ia tertawa terbahak-bahak.
“ Bila.. lo mabok ya. Atau
jangan-jangan lo ngigo? Mana mungkin drummer sekeren Dimas mau kenalan sama
cewe biasa kaya kita. Gak mungkinlah”, udah kuduga Milly pasti takkan percaya
dengan apa yang aku katanyakan. Akupun terdiam menatap keluar jendela mobil.
Milly kembali menjalankan mobilnya dan melesat pulang.
Sampainya dirumah aku
membersihakan diri kemudian berbaring menatap layar ponselku berharap Dimas
mengundangku di BBM. Hingga kutertidur dan aku terbangun mendengar suara ibuku
mengetuk pintu kamarku. Dengan mata masih terpejam aku bangkit dari tempat
tidur dan membuka pintu kamarku.
“ Apa sih maa? Inikan hari
minggu. Aku masih nagntuk”, lalu aku kembali menuju kasur dan berbaring sambil
menarik selimut menutupi tubuhku.
“ Bilaa.. mama harus ke
kantor pusat hari ini dan sepertinya mama pulang larut malam, kamu sendiri
dirumah gapapa kan? Tapi mama udah siapin sarapan buat kamu ya. Ingat kunci
pintu kalo mauu keluar ya”, setelah mengecup keningku ibuku keluar kamar dan
kembali menutup pintu kamarku.
Tak terasa sudah siang
hari. Matahari tersenyum terang sekali. Kulihat jam menunjukkan pukul 10 . Lalu
aku bangkit dan bergegas mandi. Selesai mandi akupun berjalan ke meja makan,
membuka tutup saji berwarna putih bermotif bunga dengan renda disekelilingnya.
Diatas mangkuk nasi sudah tersaji nasi goreng lengkap dengan sosis dan telur ceplok di piring sampingnya. Aku ambil piring dan beberapa sendok nasi goreng
lalu mulai makan. Selesai makan aku kembali ke kamar dan mengecek ponselku. Aku
melihat beberapa sms dan beberapa BBM. Lalu ketika kubuka salah satunya ada
undangan BBM dari Dimas. Aku tak percaya. Aku kembali membacanya. Mengucek
mataku. Ternyata benar itu Dimas. Aku menerima undangannya. Tak beberapa lama
sebuah chat masuk ke ponselku.
Dimas : PING !!!
Nabila : Hay :)
Dimas : Hay Bila. Lagi
apa?
Nabila : Gue lagi dikamar
aja ini. Lo lagi apa?
Dimas : Gue mau nengokin
nyokap nih, hari ini ada acara? Mau nemenin gue gak?
Nabila : Gak ada. Kemana?
Boleh .
Dimas : Yaudah gue jemput
ya sekarang. Rumah lo dmn?
Nabila : Gak usah kita
janjian aja di Margonda Raya. Nanti lo jemput gue disitu aja ya setengah jam
lagi deh. Gimana?
Dimas : Margonda ya? Oke.
Setengah jam lagi gue disana. See u ya :)
Wow!! Dimas ngajak jalan.
Rasanya tuh bener-bener kaya menang lotre ratusan juta bahkan lebih. Seneng
banget. Pake baju apa yah? Hemm..
Selesai siap-siap aku pun
berangkat ke tempat janjian sama Dimas tadi. Kurang lebih 15 menit aku sampai.
Dan dari kejauhan aku melihat seorang pria berkemeja denim dengan celana jeans
dan sepatu boots. Ia pun melihat kearahku dan melambaikan tangan kepadaku. Aku
membalasnya dan berlari kecil kearahnya. Dengan mengenakan baju semi dress
berwarna hijau tosca dengan sepatu wedges berwarna senada. Rambut yang
terurai dengan bandana dikepalaku menambah anggunnya penampilanku hari ini.
Pria ini menatapku beberapa detik tak berkedip. Lalu senyum mengembang di
wajahnya.
“ Hari ini lo terlihat
manis”, sambil tersipu Ia menatapku dan mempersilahkanku masuk kedalam
mobilnya.
“ Mau kemana emangnya
kita, Dim?”
“Nanti juga lo tau Bil,
gue mau nyulik lo?”, dengan wajah yang berubah menjadi serius Dimas melirikku.
Seketika jantungku derdetak. Wajahku pucat. Tanganku gemetar. Lalu Dimas pun
tertawa terbahak-bahak melihat wajah pucatku. Sambil mengusap kepalaku dengan
tangan kirinya Ia tersenyum dan menenangkanku.
“ Tenang aja gue gak ada
niat jahat ko sama lo, gue mau ngajak lo ketemu nyokap gue. Gapapa kan? Lo mau
kan?”, akupun menghela nafas lega. Dan menganggukkan kepala tanda
menyetujuinya. Ia kembali menyetir mobil. Dari dekat dia terlihat sangat manis
dan menawan. Benar-benar sosok pria idaman banget. Sekitar setengah jam kami
dalam perjalanan menelusuri kota jakarta kami tiba disalah satu rumah sakit
Jantung di Jakarta. Kemudian kami masuk kearea parkir rumah sakit itu. Dimas
pun membukakan pintu dan mempersilahkanku turun. Kami berjalan menuju loby
rumah sakit. Menaiki lift. Dimas menekan tombol tantai 7. Lift pun terbuka ketika
menunjukkan angka 7. Kami keluar dan menuju sebuah kamar. Membuka pintu. Dan
terlihat seorang wanita separuh baya terbaring lemah disana. Melihat siapa yang
datang senyum mengembang diwajahnya seakan menyambut kedatangan kami. Dengan
suara parau Ia memanggil nama anak laki-lakinya.
“ Dimas sama siapa kamu?
Tidak biasanya kamu membawa teman kemari. Apa dia pacarmu? Cantik. Ayo sini
kenalkan kepada mama”, Dimas pun menghampirinya dan memeluk serta mengecup
kening wanita itu yang tak lain adalah ibunya.
“ Bukan ma, dia teman
kampus Dimas. Namanya Nabila”, sambil menggandeng tanganku mendekati tempat
berbaring ibunya Ia mengenalkanku. Aku pun tersenyum dan memperkenalkan diriku
kedapanya.
“ Selamat siang tante.
Saya Bila teman kampus Dimas. Tante terlihat cantik dan awet muda ya”, ibu
Dimas memang terlihat cantik dan awet muda terlihat dari pipinya yang masih
kencang.
“ Kamu bisa aja Bil, tante
jadi malu. Hehe”, kami pun berbincang-bincang bersama sampai tak terasa hari
sudah mulai sore. Aku dan Dimas pun pamitan untuk pulang.
“ Maa..Dimas antar Bila
pulang dulu ya, nanti malam Dimas nemenin mama lagi. Mama jangan lupa obatnya
diminum ya. Nanti Dimas cek pokonya obatnya.”
“ Iya Dimas. Gini ni Bil,
Dimas emang cerewat kalo sama tante mah, kaya nenek-nenek.” Wajah Dimas lalu
memerah ketika digoda oleh ibunya.
“ Ih mama.. jangan gitu
dong kan malu sama Nabila. Mama mah. Yaudah Dimas pergi dulu ya ma.” Sambil
mengecup kening ibunya aku dan Dimas pamit untuk pulang.
“ Saya pulang dulu ya
tante nanti saya main lagi kesini temenin tante.” Lalu kami pun keluar menuju
lantai dasar terlihat beberapa suster mondar-mandir disepanjang koridor rumah
sakit. Kami memasuki lift dan turun kelantai dasar. Ketika lift terbuka dan
ketika kami jalan menuju loby kami berpapasan dengan seorang pria berpostur
tinggi besar dan wajahnya sedikit oriental. Pria separuh baya itu menyapa kami.
“ Kamu mau kemana? Gimana
dengan ibumu apa dia baik-baik saja?”, terlihat dari raut wajah pria itu, raut
kekhawatiran akan kondisi ibu Dimas. Wajahnya mirip dengan Dimas, mata sipit
Dimas sepertinya turunan dari pria ini. Ya tentu saja. Pria itu adalah ayahnya
Dimas. Namun anehnya wajah Dimas terlihat datar dan terlihat tak begitu suka
akan kedatangan pria itu ke rumah sakit ini.
“ Mau apalagi anda kemari?
Mama saya sedang istirahat. Beliau tak butuh dijenguk oleh orang seperti anda.
Orang yang membuatnya terbaring sakit disini”, sebelum pria itu menjawab dan
menjelaskan kedatangannya, Dimas berjalan dan menarik tanganku menjauhi pria
itu seakan tidak ingin berlama-lama bertemu dengannya. Kami pun menuju parkiran.
Ia membukakanku pintu dan masuk duduk dibelakang kemudi. Ia menundukan
kepalanya. Terlihat jelas wajah kekecewaan. Aku tak berani untuk menanyakannya.
Aku hanya dapat memandanginya saja dan mengusap lembut pundaknya. Lalu Ia
menatapku tajam. Ia memelukku. Memelukku erat seakan baru saja terpukul
batinnya. Ia menangis dipelukkanku. Aku terdiam. Jantung ini berdetak kencang.
Kuusap punggungnya untuk menenangkan keadaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar