Senin, 08 September 2014

Cinta itu Seperti Mentari bukan Pelangi #part III



Part III
Ia melepaskan pelukkannya dan mengusap air matanya. Terlihat benar-benar kacau keadaannya. Mengapa Ia begitu terpukul setelah bertemu dengan ayahnya? Apa maksudnya dengan pernyataan kalau ayahnyalah yang membuat ibunya terbaring di rumah sakit seperti saat ini?. Aku tak berani untuk bertanya banyak padanya. Namun sepertinya Ia tau raut penasaran di wajahku. Ia kemudian mulai bercerita kepadaku.
“Maaf ya atas kejadian barusan. Dan maaf gak seharusnya tadi lo liat gue sama bokap kaya gitu...”, dengan wajah kecewa Ia menggenggam tanganku.
“ ....Nyokap gue kena serangan jantung beberapa minggu lalu. Nyokap gitu karena nyokap tau kalo bokap punya istri lagi. Dan punya anak cewek seumuran ade gua 18thn. Berarti selama ini bokap gue udah khianatin cinta nyokap gue selama 18 tahun. Gue benci bokap gue. Gue benci kenapa harus punya bokap kaya dia. Gue kasian sama nyokap. Nyokap tuh istri yang baik banget. Ibu terbaik. Malaikat tanpa sayap yang tuhan kirim buat gue, kakak, dan ade gue. Tapi sekarang dia terbaring lemah gara-gara pria yang selama ini dia cintai. Yang sebagian hidupnya dihabiskan bersama pria itu. Udah 29 thn bokap nyokap gue nikah. Dan selama 18thn terakhir ini bokap gue bohongin kita semua dengan sikapnya yang tegas dan sok bijak, seakan-akan kepala keluarga yang baik. Tapi semua palsu. Gue sakit. Mungkin nyokap gue orang paling sakit atas kejadian ini. Setelah gue tau semuanya gue sama kakak gue bujuk nyokap buat pindah ke Jakarta ke rumah kakak gue disini. Mulai kehidupan baru dan lupain semuanya. Lupain semua tentang pria yang udah hancurin kita semua. Dan itu sebabnya sekarang gue kuliah disini dan nyokap di rawat disini. Saat ini cuma gua satu-satunya cowok dikeluarga gua yang harus jaga nyokap dan ade gua. Kakak gua udah berkeluarga jadi gak bisa full sama nyokap dan ade gua. Otomatis gua yang gantiin peran bokap dikeluarga saat ini. Makasih ya Bil lo udah mau jenguk nyokap gue. Lo cewek pertama yang gue ajak buat jenguk nyokap gue dan keliatannya nyokap suka sama lo deh. Maaf ya gue tadi refleks meluk lo tadi. Gue gak kuat aja kalo inget apa yang bokap lakuin ke nyokap gue.”
Bulir air mata menetes dipipiku mendengar ceritanya. Hatiku seakan tertusuk mendengarnya. Aku mengerti bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kita sayang. Ya dulu aku pernah merasakannya saat bersama Andi. Aku tak dapat berkata apa-apa. Aku hanya terdiam memandangi wajah lelaki di depanku. Raut wajahnya kini sudah tak seperti tadi. Kini wajahnya mulai kembali tenang. Wajah tampannya. Dan senyum manis dibibirnya kini mulai mengembang. Ia mengusap air mata dipipiku.
“ Udah kenapa lo yang nangis sih? . Kalo nangis nanti pipinya kempes lho, hehehe”. Ia mencoba menggodaku sambil mencubit pipiku pelan. Aku pun tersenyum. Kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang dan keluar dari are parkir rumah sakit. Tak terasa langit sudah gelap. Di perjalanan kami mampir untuk makan malam di sebuah restoran di Margonda Raya, aku tidak menyangka kalo dia akan mengajakku ke tempat ini.
“ Kita makan disini aja ya. Lo suka makanan Jepang gak? Disini makanannya enak lho, gue aja pertama makan disini langsung ketagihan.”
“ Suka ko. Gue suka makanan Jepang. Dan lo tau gak ini tempat favorit gue biasa makan tau sama sahabat-sahabat gue.”
“ Hah? Srius lo? Wah bisa kebetulan gini ya. Yaudah ayok kita turun”. Dimas lalu membukakan aku pintu dan menggandengku turun, masuk ke dalam restoran. Di depan pintu masuk sudah ada pramusaji dengan pakaian khas Jepang menyambut kami dan mengantar kami kemeja yang kosong. Kamipun memesan beberapa makanan, seperti yakiniku dan syabu – syabu. Beserta dua greentea. Tiba-tiba saja aku teringat tentang seorang chef di sini. Bagaimana jika Ia melihatku dengan Dimas? Apakah Ia akan mengira Dimas ini pasanganku?. Kulihat sekelilingku tak terlihat chef itu. Ya mungkin Ia sedang libur. Beberapa saat kemudian pesanan kami datang. Dimas mulai merebus beberapa sayuran dan daging kedalam wajan syabu-syabu panas yang telah tersedia. Lalu Dimas menuangkanku beberapa potong daging dan sayuran ke mangkukku. Mempersilahkanku makan. Kusuap satu potong daging. Kulihat Dimas sedang asyik memasukan sayuran kedalam wajan. Lalu ku ambil potongan daging dimangkukku dan kuarahkan kepadanya. Sambil memberi isarat agar dia membuka mulutnya. Dia membuka mulutnya dan menyantap makanan dari tanganku. Dia tersenyum manis sekali. Entah mengapa aku baru saja kenal dengannya namun aku merasa begitu nyaman dengannya. Apa iya ini yang disebut cinta pada pandangan pertama?. Tapi bagaimana kalau dia hanya menganggapku teman biasa?, lagipula aku baru beberapa hari kenal dengannya.
Setelah dirasa cukup Dimas pun mulai melahap makanan dimangkuknya. Selesai makan kamipun bergegas pulang. Ketika kami ingin keluar restoran kami berpapasan dengan seorang laki-laki. Ternyata itu chef yang kucari tadi. Namun Ia tak memakai baju chefnya seperti biasa, Ia mengenakan kaos dan jeans. Ia menatapku dan Dimas dengan sedikit raut kekecewaan diwajahnya. Ia berlalu dan memasuki pintu samping restoran tersebut. Dimaspun membukakanku pintu mempersilahkanku masuk. Lalu kami keluar pakiran dan melesat ke rumahku. Kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 21.00. Sebenarnya aku kasihan sama Dimas harus mengantarku pulang lalu kembali lagi untuk menjaga ibunya di rumah sakit. Sepanjang jalan kami bercerita dan bercanda gurau. Dimas cowok yang asik untuk diajak berbincang seperti ini. Terlebih lagi aku orangnya jarang banget mudah akrab dengan cowok kaya gini. Dimas itu beda, Ia bisa buat aku nyaman gitu aja didekat dia, padahal aku baru saja mengenalnya. Tak terasa kami sudah memasuki gapura perumahanku dan tak jauh dari situ sudah terlihat rumahku. Sambil memutar balik mobilnya aku berpamitan kepada Dimas. Berterima kasih telah mengenalkanku kepada ibunya, mengajakku makan malam, dan mengantarku pulang.
“ Dim, makasih ya buat hari ini. Makasih makan malamnya, kenyang abis. Dan makasih udah anter sampai rumah. Salam ya buat ibu lo. Hati-hati dijalan ya.”
Sambil tersenyum, Dimas mematikan mesin mobilnya dan melihat kearahku.
“ Sama-sama cubby, makasih juga udah mau jenguk ibu gue. Dengerin cerita gue. Oiya tentang ya tadi gue harap Cuma kita aja ya yang tau. Ya lo pahamlah. Yaudah masuk sana udah malam terus istirahat, jangan lupa mimpiin gue ya. Hehehe”, setelah mencubit pipiku Dimas turun dan membukakanku pintu. Kubuka pagar rumahku dan masuk kehalaman rumahku. Ia masih berdiri memandangiku. Aku pun melambaikan tangan ke arahnya. Ia tersenyum dan membalas melambaikan tangannya. Lalu kubuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kudengar suara  mobil Dimas pergi dari depan rumahku. Kulihat dari balik jendela rumahku, melihat kepergiannya dan berharap dapat bertemu denganya esok hari.
Aku pun pergi menuju kamar. Membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Namun terdengar suara pintu pagar terbuka. Aku berlari kecil melihat dari balik jendela kamarku. Kulihat seorang wanita separuh baya masuk dan menggembok pagar dengan raut wajah yang kelelahan. Aku berlari untuk membukakannya pintu. Menyambutnya dengan senyuman dan membawakan tas ditangannya. Ku letakkan tas itu dikamar ibuku, lalu ku buatkan secangkir teh hangat untuknya. Meletakkannya dimeja makan. Setelah itu aku kembali kekamar dan pergi tidur.

          “ Yah, kenapa lagi ini motor gue”, ditengah jalan ketika berangkat ke kampus motorku mati begitu saja. Aku panik karena aku tidak mengerti tentang motor. Mana kampus masih jauh. Aku terpaksa mendorong motorku dan mencari bengkel terdekat. Untung saja sekitar 100m dari tempat motorku mogok ada bengkel. Lalu aku parkir motorku di depan bengkel. Masuk dan berbicara pada resepsionis bengkel tersebut. Lalu datanglah seorang mekanik untuk melihat kondisi motorku. Kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan hampir pukul 8.45 sedangkan perkuliahan akan dimulai pukul 9.00. Kutitipkan motorku dibengkel dan menyetop angkutan umum untuk menuju kampus. Sesampainya di kampus aku berlari menuju kelas. Sambil terngah-engah aku mengetuk pintu. Dan ternyata belum ada dosen di kelas.
Siang ini aku janjian sama Milly untuk makan siang bersama di kantin kampus. Kulihat sahabatku sedang duduk di sebuah meja di sudut kantin sambil terlihat asik dengan ponselnya.
“ Hayoo.. senyum-senyum sendiri”, sapaku pada sahabatku itu.
“ Ihh Billa..orang gua lagi chat nih sama Baim. Gue kangen banget sama dia. Gak kerasa udah hampir dua bulan dia di Malaysia”, tiba-tiba raut sedih muncul diwajah wanita mungilnya itu. Kurangkul sahabatku itu. Mencoba menghiburnya.
“ Udah jangan sedih ah. Jaman udah canggih kali lo. Ada skype lo bisa kan tuh skype sama dia. Inget kalo dia liat lo sedih pasti dia disana kuliahnya gak tenangkan. Ayo semangat ah Milly”, kemudian ku cubit pipi sahabatku itu. Kulihat ia tersenyum. Lalu akupun bangkit dari tempat duduk memesan makanan. Aku berjalan ketempat stand bakso. Memesan semangkuk bakso dan segelas jus mellon. Ketika aku ingin kembali ke mejaku, tiba-tiba seorang lelaki memanggilku. Aku menengok kearah suara itu datang. Seketika wajahku seakan memerah melihat lelaki itu. Lelaki dengan kemeja biru dan jeans dan membawa sepuah nampan yang berisi makanan.
“ Hai Bil.. sama siapa? Makan bareng yuk”, sapa lelaki itu sambil tersenyum kepadaku.
“ Hai Dimas. Gue sama sahabat gue tuh yang lagi duduk disana. Gabung aja yuk sama kita”, sambil berjalan ke mejaku Dimas mengikutiku. Terlihat wajah Milly terkejut melihat lelaki dibelakangku ini seolah-olah iya sedang bermimpi. Lalu ku persilahkan Dimas untuk duduk dan memperkenalkan sahabatku.
“ Oiya Dim. Ini sahabat gue dari kecil Milly. Milly ini Dimas lo taukan dia siapa”, terlihat Milly masih tak percaya. Dimas mengulurkan tangannya dan berkenalan dengan Milly.
“ Bil.. ternyata yang lo bilang di acara musik waktu itu bener? Ini cowok yang lu ceritain? Dimas drummer band kampus kita”, Milly sangat antusias melihat Dimas satu meja dengan kami. Dimas pun tersenyum melihat tingkah sahabatku ini. Tak lama pesananku datang. Kami makan sambil berbincang bersama. Tak terasa kami harus kembali ke kelas kami masing-masing. Ketika aku bangkit dari tempat dudukku Dimas berdiri disampingku dan berbisik..
“ Pulang bareng ya”, ia berbisik sambil mencubit pipiku. Aku tersenyum dan mengangguk. Milly yang melihatnya menghampiriku dan mencubit lenganku. Dimaspun berlalu ke kelasnya.
“ Bil.. lo harus cerita sama gue gimana lo bisa deket dan kenal sama Dimas. Billa itu Dimas. OMG”, aku hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan sahabatku itu. Ia mengejarku dan memaksaku becerita. Akupun berjanji akan menelponnya nanti malam untuk bercerita. Awalnya ia ingin mendengar langsung cerita dariku namun aku harus segera masuk kelas.

Di tengah jam perkuliahan ponselku berdering. Kulihat ponselku. Ada pesan masuk dan aku membukanya.
Dimas : cubby keluar jam brp?
Me    : sejam lgi. Jam 5 dim..
Dimas : oke, kita sama. Jangan lupa nanti gue tunggu di parkiran ya
Me    : oke sampai nanti ya :D
Dimas : oke :D

Ternyata itu pesan dari Dimas. Akupun tak sabar menunggu jam pulang tiba. Kulihat jam didinding begitu lama berdetik. Tiba-tiba kuterbayang wajah Dimas yang sedang tersenyum padaku. Kembali jantungku berdetak kencang. Wajahku merona. Apa iya aku jatuh hati sama Dimas? Oh rasanya sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini sejak lama. Dimas hadir membawa kembali senyuman dan kebahagiaan yang dulu sempat hilang.

Jam perkuliahan pun berkhir, akupun segera keluar kelas dan menuju parkiran. Dari kejauhan kulihat seorang pria sedang bersandar disebuah mobil berwarna hitam itu. Ia melambaikan tangannya ke arahku. Akupun membalas dengan melambaikan tanganku. Dimas lalu membukakanku pintu dan mempersilahkanku masuk.
“ Oke kemana kita nih? Lo gak buru-buru pulangkan? Kita jalan dulu yuk”, sambil menyalakan mesin mobilnya Dimas mengajakku jalan.
“ Hemmm.. gak ada ko, gua gak buru-buru sih. Jalan kemana ya yang asik?”.
“ Bagus deh kalo gak buru-buru. Kita nonton yuk ada film baru nih katanya seru, gimana?”.
“ Wah boleh tuh. Yaudah kita nonton aja”.
Kamipun melesat menuju sebuah mall yang terdapat sebuah bioskop didalamnya. Tak lama sekitar 10 menit kamipun tiba dan memasuki area parkir mall tersebut. Dimas memarkir mobilnya dan turun membukakanku pintu. Ia sangat memperlakukanku dengan manis sekali, membuatku semakin menyukainya. Disekitar area parkir tiba-tiba pandanganku tertuju kepada sepasang kekasih yang sedang berjalan dan bergandengan mesra itu. Sial. Itu Andi dan pacarnya. Oh hatiku tiba-tiba terasa teriris melihatnya. Dimas yang sedang berjalan disampingkupun melihat heran diriku.
“ Bill..lo kenapa? Ko muka lo asem gitu sih? Liatin siapa sih?”, sambil bertanya ia melihat kemana arah pandanganku.
“ Lo kenal mereka, bil? Apa itu mantan lo ya?”.
“ Iya dia Andi mantan gua. Kita janagn nonton disini deh yuk, gua males kalo ketemu sama dia”, akupun memutar balik tubuhku erjalan kembali ke mobil Dimas.
“ Ehh, ngapain sih? Udah tenang aja ada gua ini. Ayo ah jangan cemen deh”, Dimas menarik tanganku dan menggandengnya menuju pintu masuk mall itu. Kamipun berpapasan dengan Andi dan pacarnya. Dimas kemudian merangkul pinggangku dan mendekatkan ke tubuhnya. Sambil berbisik kepadaku.

“ Sorry gua gak maksud. Relaks aja ya”, akupun menganggukkan kepalaku tanda menyetujuinya.

Andi menengok kearahku dan Dimas. Dia mengkerutkan dahinya seakan terkejut melihat mantannya ini digandengan seoranng lelaki. Ketika ia ingin menghampiriku, perempuan disebelahnya menariknya masuk ke sebuah toko sepatu. Akupun pura-pura tak melihatnya dan berlalu menaiki eskalator bersama Dimas. Sampai di depan bioskop Dimas masih merangkulku. Entah saat ini aku harus merasa bahagia atau sedih. Aku memang sudah melupakan Andi tapi kenapa kita harus bertemu lagi setelah sekian lama.
“ Bill.. gua beli tiket dulu ya, lo tunggu disini gapapa ya”, Dimas melepaskan rangkulannya dan berjalan menuju meja tempat pembelian tiket. Akupun menunggu disebuah sofa berwarna merah dan panjang. Serta beberapa orang yang juga duduk di sampingku. Tak begitu lama Dimas menghampiriku. Lalu duduk disampingku. Ia menatapku seakan ada sesuatu yang ia tanyakan namun raut ragu muncul diwajahnya dan kemudian memalingkan wajahnya dariku.
“ Ada apa dim? Kayanya ada yang lo mau tanyain?”, aku pun menyentuh pundaknya dan bertanya.
“ Hemm.. gapapa sih cuma mau tanya kalo boleh tau tadi itu mantan lo yang terakhir kemarin?”. Akhirnya pertanyaan itu pun muncul darinya. Aku sudah bisa tebak kalau Dimas pasti menanyakannya.
“ Iya dia Andi mantan gua. Kami udah putus lama sekitar hampir 2 tahun yang lalu dan baru kali ini gua ketemu dia lagi sama dia.”
“ Emang putusnya kenapa? Sorry ni bukannya mau ngungkit masa lalu lo ya”.
“ Dia ngeduain gua”. Jawaban singkat dariku. Kemudian Dimas mengerutkan keningnya. Seakan merasa bersalah telah menanyakan hal itu.
“ Maaf ya gua gak bermaksud”, kemudian Dimas menggenggam tanganku sambil meminta maaf atas pertanyaannya. Aku pun hanya tersenyum dan mengangguk .

Senin, 01 September 2014

Cinta itu Seperti Mentari bukan Pelangi #Part II

          Hari ini kampus lagi ngadain acara musik sampai malam hari. Kabarnya yang ngadain acara ini anak-anak dari fakultas Teknik. Aku udah janjian juga sama Milly dan beberapa teman sekelasku untuk datang keacara itu. Aku pun bersiap-siap sambil memilah-milah isi lemariku mencari pakaian yang cocok untuk kukenakan nanti. Setelah mencoba beberapa baju aku memantapkan hati untuk mengenakan dress selutut berwarna hitam dengan ikat pinggang berbentuk pita. Lalu kupanaskan alat catok dan mulai mencatok rambutku. Setelah merasa cukup dengan tatanan rambutku, aku mulai memoles wajahku dengan make up yang cukup natural dan tidak berlebihan. Blus on berwarna pink. Eyes shadow berwarna senada dengan bibirku, yaitu pich. Kusemprotkan parfum favoritku disekitar telinga,leher, dan pergelangan tanganku. Jam menunjukkan pukul 19.00 aku pun bergegas memakai wedges berwarna pink untuk menyempurnakan penampilanku. Aku terlihat anggun dan begitu feminim.
“tinnn...tinnn...”
Suara mobil Milly pun terdengar di depan rumahku. Aku lalu berpamitan kepada ibuku dan keluar menuju mobil Milly. Malam ini Milly sengaja membawa mobil sendiri karena gak mungkinkan kita udah cantik-cantik gini naik motor.
Milly terlihat sangat anggun dengan dress berwarna biru tosca. Rambut yang dikepang setengah serta dihiasi jepit kupu-kupu yang cantik. Sahabatku ini memang begitu cantik dan anggun.
Sesampainya di parkiran kampus terlihat sudah banyak orang disana. Suasananya begitu meriah. Dengan dekorasi lampu-lampu kecil disekiling area kampus. Beberapa lampion pun menghiasi sekitar taman kampus. Panggung yang cukup besar lengkap dengan alat musik di atasnya dan beberapa orang yang sedang test on. Orang-orang yang datang pun terlihat sangat menawan. Para wanita mengenakan dress yang begitu anggun. Para pria dengan kemejanya, celana chino, dan sepatu boots yang membuat mereka terlihat menawan. Suasana malam ini semakin meriah ketika MC dengan tampilan menawan mengenakan kemeja putih berdasi hitam dengan celana jeans dan sepatu boots yang keren, lalu rambut sedikit klimis mulai membuka acara musik ini. Sorak para penonton pun semakin pecah ketika band kampus kami membuka dengan membawakan lagu bertema party malam itu. Dan jika tidak salah lihat salah satu personil band itu tidak asing buatku. Ya mereka memang cukup terkenal dikalangan kampus tapi yang satu ini personil baru dibagian drum. Iya aku mengenalinya. Ia pria yang ku temui di toko buku dan koridor kampus waktu itu. Dia terlihat sangat tampan mengenakan kemeja hitamnya. Senyumnya membuatku meleleh. Siapa ya dia? Ko dia bisa jadi drummer band kampus. Setelah membawakan dua buah lagu para penonton pun berteriak memanggil masing-masing personil yang mereka kagumi. Dan satu nama yang baru saja ku dengar. Dimas. Ya nama itu baru ku dengar diantara personil yang aku tahu. Apa iya itu drummer baru mereka bernama Dimas? .
Setelah melihat beberapa band tamu aku dan Milly ke stand makanan untuk mencari makanan karena perut kami sudah bersorak tak kalah dengan hebohnya para penonton di acara ini. Ketika asik duduk di bangku yang disediakan panitia untuk sekedar makan dan berbincang-bincang, kembali Milly melakukan hal yang Ia lakukan ketika di restoran waktu itu. Mencubit tanganku dan memanglingkan wajahku.
“ Bil.. liat deh itukan personil barunya band kampus kita tau, denger-denger ya dia itu mahasiswa pindahan gitu dari bandung, anak teknik industri katanya. Ganteng ya. Cool banget liat deh senyumnya bil..”, sambil meremas tanganku Milly terlihat begitu terpukau dengan pria disebrang sana yang sedang berbincang dengan beberapa panitia acara. Dan aku hanya melamun memandanginya. Ya aku terpesona dengan rupanya. Kembali jantung ini berdetak kencang. Apa iya aku menyukainya? Pria yang ku temui di toko buku, koridor kampus, dan kini di acara musik kampus. Tapi apa iya? Ah sepertinya tidak.
Beberapa saat kemudian Milly meminta izin untuk ke stand temannya, katanya mau bantu-bantu gitu deh. Dan akhirnya aku sendiri duduk dibawah lampu-lampu lampion yang digantung di pepohonan. Begitu cantik. Hingga tiba-tiba terdengar suara seseorang berbicara dibelakangku. Suara yang serak dan berat. Ya suara laki-laki. Aku pun menoleh ke belakang.
“ Hay, boleh duduk disini?”, aku pun terkejut dan menganggukkan kepalaku. Lalu Ia duduk disampingku dengan membawa segelas coffe. Senyumnya kembali membuatku berdetak. Wajahku tiba-tiba memerah dan tersipu malu. Tanganku terasa dingin. Aku menjadi salah tingkah ketika Ia mulai mengajakku berbincang.
“Oiya kita udah sempat ketemukan beberapa waktu lalu?”, Ia mencoba membuka perbincangan.
“ Iya di toko buku dan koridor kampus. Gak nyangka ya lo anak kampus sini ternyata dan kebetuan kita bisa ketemu lagi disini.”
“ Iya gua juga gak nyangka bisa ketemu lo lagi. Kenalin gue Dimas. Mahasiswa baru jurusan Teknik Industri”, sambil mengulurkan tangannya Ia memperkenalkan diri.
“ Gue Nabila. Panggil aja Billa. Anak manajemen keuangan. Gak nyangka bisa kenalan sama drummer band paling terkenal di kampus, hehehe”
“ Nabilla. Nama yang bagus. Ah itu Cuma kebetulan aja. Personil yang lama kakinya cidera dan didiagnosa gak bisa main drum dulu buat beberapa bulan kedepan dan kebetulan gua hobi main drum terus diajak gabung sama Tino (Vokalis band kampus) jadi drummer mereka”.
“ Oh si Bimbim cidera. Gua baru tau, duh kasian juga ya gak bisa main drum lagi. Oiya lu pindahan dari mana emang?.” Aku pun mulai kepo nanya-nanya tentang dia. hehehe
“ Gue asli Bandung. Gue pindah kesini gara-gara nyokap gua sakit dan harus dirawat dijakarta jadi keluarga gua pindah kesini semua. Berhubung gue anak cowok satu-satunya dikeluarga jadi gue gak bisa tetep di Bandung kasian gak ada yang jaga nyokap entar”.
Duh ini cowok idaman banget sih. Udah cakep. Baik. Berbakti sama orang tua lagi. Jadi makin suka deh. Ehh apa-apaan sih? Gak gak boleh.
“ Oh jadi lo pindah kesini gara-gara nyokap lo harus berobat disini. Kalo boleh tau sakit apa nyokap lo?. Sorry ni jadi kepo gue”.
“ Ya nanti lo juga tau. Next kalo kita ketemu dan ngobrol kaya gini lagi gue bakal cerita deh. Oiya boleh minta pin lo? Gue harus balik ke panggung ni,”
OMG dia minta pin aku. Saat itu wajahku pun tersipu malu. Senyum gembira terpancar dibibirku dan tak dapat lagi kubendung.
“ Oke next time ya. Nih pin gue. 767Dxxxx  . yaudah kalo gitu gue juga mau nyamperin temen gue juga nih. See u ya.”
Dan itu awal dari perkenalanku dengan Dimas personil band populer di kampus. Setelah Dimas pergi aku pun menghampiri Milly dengan wajah yang begitu bahagia seakan baru saja menang lotre. Milly heran melihatku tersenyum-senyum dari kejauhan.
“ Idih, Bil lo kenapa? Lo sehat-sehat ajakan? Lo gak kesurupankan?”, sambil menepuk pipiku Milly mencoba mencari tahu apa yang membuatku begitu bahagia.
“ Mau tau aja deh lo. Nanti deh gue ceritain. Pasti lo kaget dan gak nyangka deh dengernya. Udah yuk gue mau liat penutupan nih band kampus tampil lagi tuh”, aku pun menarik tangan Milly menuju depan panggung. Terlihat diatas panggung sudah siap para personil band kampus kami dan siap menyanyikan lagu penutup acara malam ini. Di sudut panggung terlihat pria yang tadi berbincang denganku siap dengan stick drumnya. Lagupun dinyanyikan. Para penonton bersorak. Terlebih lagi para wanita-wanita disini begitu antusias sekali. Suara gitar dan bass mengawali lagu bertema perpisahan itu diikuti intro drum yang membuat suasana malam ini begitu semakin meriah bersorak suara para penonton. Acara musik kampus benar-benar berjalan sangat sukses sekali. Salut sama anak-anak Teknik yang ngadain acara ini deh.
Tak terasa sudah larut malam. Jam menunjukkan pukul 23.30. Aku dan Milly pun bergegas pulang. Sepanjang perjalanan aku hanya dapat tersenyum mengingat perkenalanku dengan Dimas tadi. Milly yang memperhatikanku pun mencolekku dan mulai mengintrogasiku seakan-akan aku terdakwa sebuah kasus pembunuhan.
“Nabila.. sumpah gue takut lo kesambet deh, lo kenapa sih dari tadi gue liat senyum-senyum sendiri gitu. Oiya katanya lo mau cerita tadi sama gue. Ayo cerita ah”, Milly pun memperlambat laju mobilnya. Jalanan sudah terlihat sangat sepi berhubung sudah larut malam jadi hanya ada beberapa kendaraan yang melintas dijalan ini.
“Tapi lo jangan kaget ya dengernya. Nih gue beberapa hari lalu gue ketemu cowok di toko buku. Manis. Cool abis. Dan lo tau gue ketemu dia lagi di koridor kampus beberapa waktu lalu..”
“Jadi dia anak kampus kita juga? Siapa? Jurusan apa? Apa gue kenal? Ayo dong gue penasaran”, jawab Milly yang tak sabar mendengar kelanjutan ceritaku. Akupun kembali bercerita dengan wajah yang mulai memerah dan jantungku ikut berdetak kencang ketika membayangkan wajah Dimas.
“ Tadi gue ketemu dia lagi di acara kampus. Dia salah satu personil band kampus. Drummer baru tepatnya. Dimas.”
Tiba-tiba Milly mengerem mendadak. Wajahnya terlihat kaget seakan tak percaya apa yang baru saja Ia dengar. Dengan wajah yang terheran-heran Ia mendekatkan wajahnya kepadaku. Lalu Ia tertawa terbahak-bahak.
“ Bila.. lo mabok ya. Atau jangan-jangan lo ngigo? Mana mungkin drummer sekeren Dimas mau kenalan sama cewe biasa kaya kita. Gak mungkinlah”, udah kuduga Milly pasti takkan percaya dengan apa yang aku katanyakan. Akupun terdiam menatap keluar jendela mobil. Milly kembali menjalankan mobilnya dan melesat pulang.
Sampainya dirumah aku membersihakan diri kemudian berbaring menatap layar ponselku berharap Dimas mengundangku di BBM. Hingga kutertidur dan aku terbangun mendengar suara ibuku mengetuk pintu kamarku. Dengan mata masih terpejam aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarku.
“ Apa sih maa? Inikan hari minggu. Aku masih nagntuk”, lalu aku kembali menuju kasur dan berbaring sambil menarik selimut menutupi tubuhku.
“ Bilaa.. mama harus ke kantor pusat hari ini dan sepertinya mama pulang larut malam, kamu sendiri dirumah gapapa kan? Tapi mama udah siapin sarapan buat kamu ya. Ingat kunci pintu kalo mauu keluar ya”, setelah mengecup keningku ibuku keluar kamar dan kembali menutup pintu kamarku.
Tak terasa sudah siang hari. Matahari tersenyum terang sekali. Kulihat jam menunjukkan pukul 10 . Lalu aku bangkit dan bergegas mandi. Selesai mandi akupun berjalan ke meja makan, membuka tutup saji berwarna putih bermotif bunga dengan renda disekelilingnya. Diatas mangkuk nasi sudah tersaji nasi goreng lengkap dengan sosis dan telur ceplok di piring sampingnya. Aku ambil piring dan beberapa sendok nasi goreng lalu mulai makan. Selesai makan aku kembali ke kamar dan mengecek ponselku. Aku melihat beberapa sms dan beberapa BBM. Lalu ketika kubuka salah satunya ada undangan BBM dari Dimas. Aku tak percaya. Aku kembali membacanya. Mengucek mataku. Ternyata benar itu Dimas. Aku menerima undangannya. Tak beberapa lama sebuah chat masuk ke ponselku.
Dimas : PING !!!
Nabila : Hay :)
Dimas : Hay Bila. Lagi apa?
Nabila : Gue lagi dikamar aja ini. Lo lagi apa?
Dimas : Gue mau nengokin nyokap nih, hari ini ada acara? Mau nemenin gue gak?
Nabila : Gak ada. Kemana? Boleh .
Dimas : Yaudah gue jemput ya sekarang. Rumah lo dmn?
Nabila : Gak usah kita janjian aja di Margonda Raya. Nanti lo jemput gue disitu aja ya setengah jam lagi deh. Gimana?
Dimas : Margonda ya? Oke. Setengah jam lagi gue disana. See u ya :)
Wow!! Dimas ngajak jalan. Rasanya tuh bener-bener kaya menang lotre ratusan juta bahkan lebih. Seneng banget. Pake baju apa yah? Hemm..
Selesai siap-siap aku pun berangkat ke tempat janjian sama Dimas tadi. Kurang lebih 15 menit aku sampai. Dan dari kejauhan aku melihat seorang pria berkemeja denim dengan celana jeans dan sepatu boots. Ia pun melihat kearahku dan melambaikan tangan kepadaku. Aku membalasnya dan berlari kecil kearahnya. Dengan mengenakan baju semi dress berwarna hijau tosca dengan sepatu wedges berwarna senada. Rambut yang terurai dengan bandana dikepalaku menambah anggunnya penampilanku hari ini. Pria ini menatapku beberapa detik tak berkedip. Lalu senyum mengembang di wajahnya.
“ Hari ini lo terlihat manis”, sambil tersipu Ia menatapku dan mempersilahkanku masuk kedalam mobilnya.
“ Mau kemana emangnya kita, Dim?”
“Nanti juga lo tau Bil, gue mau nyulik lo?”, dengan wajah yang berubah menjadi serius Dimas melirikku. Seketika jantungku derdetak. Wajahku pucat. Tanganku gemetar. Lalu Dimas pun tertawa terbahak-bahak melihat wajah pucatku. Sambil mengusap kepalaku dengan tangan kirinya Ia tersenyum dan menenangkanku.
“ Tenang aja gue gak ada niat jahat ko sama lo, gue mau ngajak lo ketemu nyokap gue. Gapapa kan? Lo mau kan?”, akupun menghela nafas lega. Dan menganggukkan kepala tanda menyetujuinya. Ia kembali menyetir mobil. Dari dekat dia terlihat sangat manis dan menawan. Benar-benar sosok pria idaman banget. Sekitar setengah jam kami dalam perjalanan menelusuri kota jakarta kami tiba disalah satu rumah sakit Jantung di Jakarta. Kemudian kami masuk kearea parkir rumah sakit itu. Dimas pun membukakan pintu dan mempersilahkanku turun. Kami berjalan menuju loby rumah sakit. Menaiki lift. Dimas menekan tombol tantai 7. Lift pun terbuka ketika menunjukkan angka 7. Kami keluar dan menuju sebuah kamar. Membuka pintu. Dan terlihat seorang wanita separuh baya terbaring lemah disana. Melihat siapa yang datang senyum mengembang diwajahnya seakan menyambut kedatangan kami. Dengan suara parau Ia memanggil nama anak laki-lakinya.
“ Dimas sama siapa kamu? Tidak biasanya kamu membawa teman kemari. Apa dia pacarmu? Cantik. Ayo sini kenalkan kepada mama”, Dimas pun menghampirinya dan memeluk serta mengecup kening wanita itu yang tak lain adalah ibunya.
“ Bukan ma, dia teman kampus Dimas. Namanya Nabila”, sambil menggandeng tanganku mendekati tempat berbaring ibunya Ia mengenalkanku. Aku pun tersenyum dan memperkenalkan diriku kedapanya.
“ Selamat siang tante. Saya Bila teman kampus Dimas. Tante terlihat cantik dan awet muda ya”, ibu Dimas memang terlihat cantik dan awet muda terlihat dari pipinya yang masih kencang.
“ Kamu bisa aja Bil, tante jadi malu. Hehe”, kami pun berbincang-bincang bersama sampai tak terasa hari sudah mulai sore. Aku dan Dimas pun pamitan untuk pulang.
“ Maa..Dimas antar Bila pulang dulu ya, nanti malam Dimas nemenin mama lagi. Mama jangan lupa obatnya diminum ya. Nanti Dimas cek pokonya obatnya.”
“ Iya Dimas. Gini ni Bil, Dimas emang cerewat kalo sama tante mah, kaya nenek-nenek.” Wajah Dimas lalu memerah ketika digoda oleh ibunya.
“ Ih mama.. jangan gitu dong kan malu sama Nabila. Mama mah. Yaudah Dimas pergi dulu ya ma.” Sambil mengecup kening ibunya aku dan Dimas pamit untuk pulang.
“ Saya pulang dulu ya tante nanti saya main lagi kesini temenin tante.” Lalu kami pun keluar menuju lantai dasar terlihat beberapa suster mondar-mandir disepanjang koridor rumah sakit. Kami memasuki lift dan turun kelantai dasar. Ketika lift terbuka dan ketika kami jalan menuju loby kami berpapasan dengan seorang pria berpostur tinggi besar dan wajahnya sedikit oriental. Pria separuh baya itu menyapa kami.
“ Kamu mau kemana? Gimana dengan ibumu apa dia baik-baik saja?”, terlihat dari raut wajah pria itu, raut kekhawatiran akan kondisi ibu Dimas. Wajahnya mirip dengan Dimas, mata sipit Dimas sepertinya turunan dari pria ini. Ya tentu saja. Pria itu adalah ayahnya Dimas. Namun anehnya wajah Dimas terlihat datar dan terlihat tak begitu suka akan kedatangan pria itu ke rumah sakit ini.
“ Mau apalagi anda kemari? Mama saya sedang istirahat. Beliau tak butuh dijenguk oleh orang seperti anda. Orang yang membuatnya terbaring sakit disini”, sebelum pria itu menjawab dan menjelaskan kedatangannya, Dimas berjalan dan menarik tanganku menjauhi pria itu seakan tidak ingin berlama-lama bertemu dengannya. Kami pun menuju parkiran. Ia membukakanku pintu dan masuk duduk dibelakang kemudi. Ia menundukan kepalanya. Terlihat jelas wajah kekecewaan. Aku tak berani untuk menanyakannya. Aku hanya dapat memandanginya saja dan mengusap lembut pundaknya. Lalu Ia menatapku tajam. Ia memelukku. Memelukku erat seakan baru saja terpukul batinnya. Ia menangis dipelukkanku. Aku terdiam. Jantung ini berdetak kencang. Kuusap punggungnya untuk menenangkan keadaannya.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Cinta itu Seperti Mentari bukan Pelangi #Part I



Cinta itu Seperti Mentari Bukan Pelangi

Part I


Bayangan wajahnya kembali menyapa malam ini. Senyum yang terpancar diwajahnya tak dapat kulupakan. Tatapan matanya yang selalu menyejukkan hati. Namun seketika rasa itu datang lagi. Rasa akan kekecewaan dan pengkhianatan. Teringat bagaimana dia pergi dari hidupku. Meninggalkan sejuta rasa sakit. Air mata ini kembali menetes. Bukan karena aku merindukannya. Tapi aku menyesal telah begitu cinta kedapanya.
          Pagi ini hembusan angin membelai tubuhku. Membawa kesejukkan didiri ini.
“Billa...”
Sebuah suara yang begitu aku kenal. Memanggilku. Aku pun menengok dan tersenyum kepada seorang wanita cantik dengan dress berwarna hijau tosca. Rambutnya yang panjang dan kulitnya yang kuning langsat menambah keanggunannya. Ia berjalan kearahku sambil membawa dua cup es krim ditangannya. Dia adalah Milly sahabat kecilku.
“Bengong aja, mikirin siapa sih? Mikirin gue ya? Hahaha”, sambil memberikan satu cup es krim rasa vanilla Ia tertawa mencoba menggodaku.
“Siapa yang bengong sih? Gue laper tau. Makasih tau aja gue lagi pingin es krim hahaha”, jawabku sambil membuka cup es krim dan melahapnya.
Sambil melahap es krim yang dibawakan Milly, kami bercerita dan bercanda gurau. Senyuman terpancar diwajah kami. Wajahnya kemudian berubah memerah dan tersipu ketika nama itu Ia sebut. Ibrahim. Ya nama itu membuatnya tersipu malu. Ia begitu antusias menceritakan lelaki itu. Yang tidak lain adalah kekasihnya. Milly dan Ibrahim atau yang lebih akrab dipanggil Baim memang sudah lama menjalin kasih sejak mereka duduk di bangku SMA. Hingga kini mereka sudah menjalin kasih kurang lebih 3 tahun lamanya.

          Perkenalkan nama aku Nabilla. Anak tunggal dari keluarga Abdulah yang tak lain adalah ayahku, Dan Dewi ibuku. Aku wanita yang cukup pendiam dan terkadang bisa sangat jutek ketika belum mengenalku. Dengan postur tubuh yang tak begitu tinggi sekitar 158 cm dan berat badan sekitar 60 kg. Ya aku memang terlihat sedikit gemuk dan cubby. Rambut panjang bergelombang dengan warna rambut hitam kemerahan. Aku mahasiswi salah satu Universitas Swasta di Jakarta, jurusan Manajemen Keuangan.

          Siang ini aku sedang duduk di kantin sibuk dengan laptop di depanku. Dengan segelas jus strawberry dan beberapa potong kue. Ada beberapa orang disekitarku yang sedang berbincang-bincang satu dengan yang lain yang tak begitu kukenal. Kebiasaan ini sering aku lakukan ketika menunggu jam kosong mata kuliah selanjutnya yang lumayan cukup lama. Sambil menghabiskan satu potong kue ditangan kananku, dengan tangan satu lagi sibuk mengetik sms yang membuatku tersenyum sendiri membacanya. Tak lama kemudian Milly datang bersama dengan Baim yang menghampiriku, dengan tangan Baim yang merangkul mesra wanita cantik disampingnya itu. Mereka terlihat sangat bahagia, terlihat dari senyum yang mengembang di wajah keduanya.
“ Hayoo, sendirian aja neng. Mau kita temenin gak nih?”, sapa Baim yang menepuk pundakku.
“ Boleh sih tapi kayanya gue bakal jadi obat nyamuk ini kalau ditemani sama kalian berdua, hahaha”, jawabku sambil mempersilahkan keduanya duduk dan bergeser agar Milly dapat duduk disampingku lalu Baim disampingnya.
Merekapun memesan beberapa makanan dan minuman. Tak lama pesanan mereka datang mereka melahap makanan sambil berbincang denganku. Aku terkadang suka iri melihat kemesraan mereka. Bukan karena aku menyukai Baim atau ingin merusak hubungan mereka ya, tapi karena aku sudah cukup lama tak memiliki seseorang yang spesial yang menemani hari-hariku. Rasanya sudah sangat lama ketika terakhir kali tangan ini digenggam erat oleh orang yang begitu aku sayang dan yang kini hanya ada bayangannya saja yang menemani.
Ya tepatnya 1,5 tahun yang lalu pada malam hari yang indah bertabur bintang dan disinari sang rembulan, aku duduk disamping seorang laki-laki yang sedang menatapku tajam. Kuteguk segelas sirup dan mencoba bersikap senormal mungkin ketika kutau arti raut wajah yang sedang menatapku itu. Denga suara sedikit serak aku memulai perbincangan.
“Ya ada apa? Tumben kamu ngajak aku ketemu malam-malam kaya gini, ini bukan hari jadian kitakan? Atau memang ada yang ingin kamu katakan?”, tanyaku dengan tangan yang mulai dingin karena gugup dan wajah sedikit pucat.
“ Bil, aku mau ngomong sama kamu. Sebelumnya aku minta maaf ya aku ngajak kamu keluar dadakan kaya ini, aku udah gak tau harus mulai dari mana dan gimana ngomongnya sama kamu. Aku benar-benar minta maaf ya...”
Kata-kata yang membuatku begitu takut untuk mendengar kelanjutan dari kalimat yang Ia ucapkan. Wajahnya pucat dan begitu menggambarkan raut penyesalan dan kesedihan.
“... aku minta maaf. Aku rasa aku sudah tidak dapat melanjutkan hubungan kita. Bukan karena aku sudah tak menyayangimu lagi, tapi aku harus memilih. Aku telah melakukan hal yang pasti menyakitimu ketika kau tau ini semua. Maafkan aku yang tak dapat menjaga hatiku seutuhnya untukmu dan maafkan aku telah berbagi cinta dengan yang lain..”
Aku pun terkejut mendengar kalimat yang baru saja kudengar. Membagi cinta dengan yang lain. Dia menduakanku. Dia mengkhianati cinta yang telah lama kami bangun berdua. Seketika bulir air mulai mengalir dipelupuk mataku. Tanganku gemetar. Jantungku berdetak kencang. Nafasku menjadi sesak. Bibir dan lidah ini kaku tak dapat berbicara.
“ Bilaa.. aku benar-benar menyesal telah menyakitimu. Maafkan aku. Aku tak pantas bersamamu lagi. Aku laki-laki yang tak baik untukmu. Maaf kita harus berakhir seperti ini. Semoga kau mendapat penggantiku yang lebih baik dan dapat setia kepadamu bukan lelaki sepertiku. Terima kasih telah menemani hari-hariku selama hampir dua tahun ini, kau wanita terbaik yang pernah kumiliki namun aku tak dapat bersamamu lebih lama lagi. Kau akan semakin terluka jika terus bersamaku.”
Aku pun mulai bangkit dari tempat dudukku. Mengusap air mata yang terus menetes dipipi ini. Sambil terbata-bata aku pun berkata kepada lelaki di depanku dengan wajah penuh kekecewaan.
“ Andi.. kenapa kamu sejahat ini sama aku. Aku benar-benar kecewa sama kamu. Aku menyesal telah mengenal dan sempat begitu sayang denganmu. Dengan orang yang kini menghancurkan kepercayaanku dan cinta yang tulus selama ini yang aku berikan. Cukup jangan pernah ganggu dan temui aku lagi.”
Aku berlari kecil menjauh darinya. Menyetop angkutan umum dan masuk kedalamnya. Kulihat lelaki tinggi putih perparas tampan itu menatap kepergianku. Saat itu aku benar-benar kacau. Beberapa orang disekelilingku, yang tak lain adalah penumpang angkutan yang lain memandangiku heran. Karena ku menangis sesegukkan seakan baru saja mendapat kabar duka yang mendalam. Tak lama angkutan yang kutumpangi berhenti depan sebuah perumahan dengan gapura berwarna hijau disekililingnya, serta terdapat pos satpam disudut kanan gapura itu. Aku mengeluarkan selembar uang lima ribu dan memberikannya kedapa pria setengah baya yang sedang duduk dibalik kemudi. Lalu aku berlari menuju rumah bercat merah dengan pagar tak begitu tinggi berwarna hitam, terletak beberapa pot tumbuhan di depannya.
Aku menuju kamar dan mengunci pintu. Ku berbaring dan menangis sejadi-jadinya meluapkan semua rasa kekecewaan dan sakit hati yang baru saja aku dapatkan. Hingga larut malam aku masih menangis. Terdengar beberapa kali pintu kamarku diketuk tapi aku tak menjawab. Ponselku berdering beberapa saat selama beberapa jam terakhir. Ku buka ponselku. Tertera dilayar ponselku hampir 80 panggilan tak terjawab dan 50 pesan baru yang belum ku baca. Semuanya dari Andi. Sudah tak penting lagi dia. Ku matikan ponselku. Dan kembali aku berbaring hingga aku terlelap.

Ponselku berdering memecah lamunanku. Ku angkat dan terdengar suara dari seberang telpon untuk memintaku segera kembali ke kelas. Telpon dari teman sekelasku Tania yang memberi tahuku kelas akan segera dimulai. Setelah menutup telpon aku berkemas untuk kembali ke kelas dan berpamit kepada kedua  sahabatku yang sedang asik makan siang.
“ Mill..Imm.. gue harus ke kelas nih, gue tinggal gapapa ya.”
Sambil pamit ke mereka aku meminum habis jus strawberry yang tadi ku beli dan menenteng tas dan laptopku, kemudian bergegas menuju kelas yang terletak tak begitu jauh dari kantin, kira-kira melewati empat ruang kelas dan satu lab. Bahasa.
          Hari ini aku kuliah sampai sore. Ketika keluar kelas kulihat langit sudah berangsur gelap dengan warna jingga keungu-unguan mewarnainya. Kampuspun sudah terlihat sepi hanya terlihat beberapa orang yang sedang berkumpul di depan lab. Bahasa. Aku pun bergegas menuju parkiran motor. Terlihat motor metic berwarna hitam dengan garis merah di bagian body-nya. Kukeluarkan kunci motorku dan kukenakan helm putihku. Kunyalakan motorku dan melesat pulang. Di tengah jalan terbesit dipikiranku untuk mampir disebuah toko buku di dekat kampus. Kubelokkan motorku memasuki area parkir toko itu. Lalu ku masuk dan menuju rak buku favoritku. Aku memilih-milih beberapa novel, ketika ingin mengambil sebuah novel aku berbarengan oleh seseorang. Tangan kami saling bersentuhan. Aku menengok dan kulihat senyum diwajah lelaki yang lumayan tinggi dan berparas manis itu.
“ Ehh.. maaf. Yaudah ini kamu duluan aja,” sambil tersenyum Ia meminta maaf kepadaku. Dengan suara serak yang menambah pesonanya. Aku mengambil buku ditangannya dan tersenyum sambil menganggukkan kepalaku, berterima kasih dan berlalu ke meja kasir. Setelah membayar beberapa buku aku pun segera pulang.
Sesampainya di rumah, aku mandi dan segera bersiap untuk makan malam bersama ibuku. Ya kami di rumah lebih sering berdua karena ayahku sedang bekerja di luar kota, ini juga tak setiap hari aku dapat makan malam bersama ibuku dikarenakan ibuku juga sibuk bekerja. Aku pun duduk disamping wanita yang terlihat begitu sejuk wajahnya. Ia tersenyum kepadaku sambil menuangkan nasi ke piring di depanku, lalu mengambil beberapa sendok sayur dan lauk dan  mempersilahkanku makan.
“ Maksih mah..” aku tersenyum kepadanya dan mulai menyuap sesendok nasi dengan lahapnya.
Seusai makan malam aku kembali ke kamarku dan membuka laptop lalu mengerjakan tugas kuliahku. Sekitar pukul 22.00 ponselku berdering. Kulihat sebuah panggilan muncul dilayar ponselku. Lalu kuangkat dan terdengar suara serak seorang wanita yang terdengar sedang menangis. Itu Milly. Mengapa Ia menangis? Ada apa ini?.
“ Milly ada apa? Lo kenapa ko nangis? Cerita sama gue mil”, aku pun panik. Lalu Milly mulai bercerita dengan suara terbata-bata. Hampir satu jam kami berbincang melalui telpon. Milly pun terdengar semakin membaik, suaranya sudah tak lagi serak dan terdengar sudah biasa saja. Akhirnya kami mengakhiri obrolan kami karena sudah larut malam.
“ Udah ya Milly sayang jangan sedih kan masih ada gue mil, ya kan Baim pergi juga buat lanjutin kuliahnya, lo harus dukung dia. Lagian kalian juga masih bisa berhubungankan, udah sekarang lo istirahat ya besok kita lanjut di kampus ya.” Aku pun menutup telpon dan menghela nafas. Milly baru saja cerita kalo Baim harus pergi ke Malaysia untuk pertukaran mahasiswa selama satu semester. Di kampus kami memang sering mengadakan pertukaran mahasiswa seperti itu dan kini Baim mewakili kampus kami untuk pergi ke Malaysia. Ya aku mengerti perasaan Milly, bagaimana rasanya jauh dari sang kekasih apalagi mereka selama ini selalu bersama menghabiskan hari-hari.
Hari ini aku pergi ke kampus agak siangan karena hari ini hanya ada satu jadwal lab. Bahasa saja. Sekitar jam 11 aku sampai di kampus dan segera menuju lab. Di tengah koridor aku tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
“ Duhh..maaf maaf gue lagi buru-buru. Lo gapapa kan?”, sambil membereskan buku yang berserakan dilantai aku meminta maaf dan aku begitu kaget ketika melihat lelaki di depanku. Ia tersenyum. Senyum yang mengingatkanku peristiwa beberapa hari yang lalu.
“ Iya gue gapapa ko. Maaf juga gue sibuk sama ponsel gue tadi jadi gak lihat jalan juga.” Seketika jantungku berdetak mendengar suaranya. Setelah berbincang beberapa saat aku kembali bergegas menuju lab.Bahasa. Selesai dari lab aku duduk di kantin sambil menunggu Milly keluar kelas.
“Tadi itu siapa ya? Dia kan cowok yang waktu itu di toko buku. Dia anak kampus sini juga? Ko aku baru liat ya. Anak Fakultas mana yah? Semester berapa?.” Pikiranku kemana-mana sampai seseorang mengagetkanku. Dengan menepuk pundakku lalu menarik tanganku.
“ Bil.. anterin gua ke salon yuk. Lo udah gak ada jam kuliahkan. Ayo lah”. Aku pun bangkit dari tempat duduk di kantin lalu berjalan disamping sahabatku menuju parkiran. kamipun menuju salon langganan kami di sekitar jalan Margonda Raya. Sampai di depan sebuah salon berinterior klasik dengan dihias beberapa bunga kamboja dipintu masuknya. Kami pun masuk dan memilih paket spa selama 90 menit.
Selesai dari salon aku dan Milly mampir ke restoran Jepang favorit kami biasanya kumpul bertiga dengan Baim. Ya karena Baim sedang di Malaysia jadi kami cuma berdua deh. Sedang asik melahap semangkuk ramen Milly mencubit tanganku gemas sambil memanglingkan wajahku ke arah seorang juru masak di restoran itu.
“Bilaa.. liat deh manis banget ya chefnya, eh dari tadi dia ngeliatin lo tau. Cieee”, sambil mengunyah makanan dimulutku aku memandangi laki-laki yang dimaksud oleh sahabatku itu. Ya laki-laki itu terlihat manis ketika Ia tersenyum kepadaku sambil membungkukan tubuhnya seakan memberi salam. Aku pun menganggukkan  kepalaku untuk membalasnya. Selama aku sering kemari aku baru tau kalau ada chef semanis dia disini. Apa karena aku tidak suka memperhatikan sekelilingku saat dengan sahabatku ini makanya aku baru melihatnya.
“ eh mil.. ko gue baru liat dia sih, selama ini kan kita sering bangetkan kesini”, akhirnya aku menanyakan itu kepada sahabatku ini. Ia pun tersenyum menggodaku. Sambil menunjukku lalu mencolek pipiku.
“Ciee..lu naksir ya? Dia udah lama ko disini, lonya aja yg terlalu cuek. Udah lama tau dia merhatiin lo”.
Hah? Apa iya dia udah lama merhatiin aku? Tapi kok Milly baru cerita sekarang ya? Duh jadi geer aku. Hahaha.
Selesai makan kami pun meminta bill. Seorang pramusaji menghampiri kami dengan pakaian khas wanita Jepang dia tersenyum dan memberi kami sebuah bill. Setelah melihat berapa yang harus kami bayar, kami menaruh beberapa kembar uang dan tiba-tiba Milly bertanya pada Pramusaji itu. Dan membuatku shock dan malu.
“ Mba.. boleh nanya gak? Itu chef yang lagi buat sushi itu siapa ya namanya, teman saya nitip salam ya buat dia”, goda Milly yang menyenggol bahuku dengan bahunya.
“ Oh itu Awan mba, salah satu chef terbaik kami disini. Nanti saya sampaikan salamnya”, pramusaji itu tersenyum dan membungkukkan tubuhnya lalu pergi dari meja kami.
Duh Milly apa-apaan sih bikin malu aja. Kan aku gak mau tau dia itu siapa dan gak mau nitip salam jugakan. Milly yang melihat wajahku yang agak cemberut namun terlihat memerah pun kembali menggodaku. Sepanjang perjalanan pulang Milly selalu membahas chef di restoran tadi.
“Bil.. kayanya lo harus deketin tuh chef deh. Lumyan bil jago masak lo kan suka banget tuh masakkan Jepang. Pas deh. Hahaha”, sambil mencolek lenganku Milly terus saja menggodaku. Sampai akhirnya kami sampai di rumah Milly. Dan aku pun kembali ke rumah.