Sabtu, 30 Agustus 2014

Cinta itu Seperti Mentari bukan Pelangi #Part I



Cinta itu Seperti Mentari Bukan Pelangi

Part I


Bayangan wajahnya kembali menyapa malam ini. Senyum yang terpancar diwajahnya tak dapat kulupakan. Tatapan matanya yang selalu menyejukkan hati. Namun seketika rasa itu datang lagi. Rasa akan kekecewaan dan pengkhianatan. Teringat bagaimana dia pergi dari hidupku. Meninggalkan sejuta rasa sakit. Air mata ini kembali menetes. Bukan karena aku merindukannya. Tapi aku menyesal telah begitu cinta kedapanya.
          Pagi ini hembusan angin membelai tubuhku. Membawa kesejukkan didiri ini.
“Billa...”
Sebuah suara yang begitu aku kenal. Memanggilku. Aku pun menengok dan tersenyum kepada seorang wanita cantik dengan dress berwarna hijau tosca. Rambutnya yang panjang dan kulitnya yang kuning langsat menambah keanggunannya. Ia berjalan kearahku sambil membawa dua cup es krim ditangannya. Dia adalah Milly sahabat kecilku.
“Bengong aja, mikirin siapa sih? Mikirin gue ya? Hahaha”, sambil memberikan satu cup es krim rasa vanilla Ia tertawa mencoba menggodaku.
“Siapa yang bengong sih? Gue laper tau. Makasih tau aja gue lagi pingin es krim hahaha”, jawabku sambil membuka cup es krim dan melahapnya.
Sambil melahap es krim yang dibawakan Milly, kami bercerita dan bercanda gurau. Senyuman terpancar diwajah kami. Wajahnya kemudian berubah memerah dan tersipu ketika nama itu Ia sebut. Ibrahim. Ya nama itu membuatnya tersipu malu. Ia begitu antusias menceritakan lelaki itu. Yang tidak lain adalah kekasihnya. Milly dan Ibrahim atau yang lebih akrab dipanggil Baim memang sudah lama menjalin kasih sejak mereka duduk di bangku SMA. Hingga kini mereka sudah menjalin kasih kurang lebih 3 tahun lamanya.

          Perkenalkan nama aku Nabilla. Anak tunggal dari keluarga Abdulah yang tak lain adalah ayahku, Dan Dewi ibuku. Aku wanita yang cukup pendiam dan terkadang bisa sangat jutek ketika belum mengenalku. Dengan postur tubuh yang tak begitu tinggi sekitar 158 cm dan berat badan sekitar 60 kg. Ya aku memang terlihat sedikit gemuk dan cubby. Rambut panjang bergelombang dengan warna rambut hitam kemerahan. Aku mahasiswi salah satu Universitas Swasta di Jakarta, jurusan Manajemen Keuangan.

          Siang ini aku sedang duduk di kantin sibuk dengan laptop di depanku. Dengan segelas jus strawberry dan beberapa potong kue. Ada beberapa orang disekitarku yang sedang berbincang-bincang satu dengan yang lain yang tak begitu kukenal. Kebiasaan ini sering aku lakukan ketika menunggu jam kosong mata kuliah selanjutnya yang lumayan cukup lama. Sambil menghabiskan satu potong kue ditangan kananku, dengan tangan satu lagi sibuk mengetik sms yang membuatku tersenyum sendiri membacanya. Tak lama kemudian Milly datang bersama dengan Baim yang menghampiriku, dengan tangan Baim yang merangkul mesra wanita cantik disampingnya itu. Mereka terlihat sangat bahagia, terlihat dari senyum yang mengembang di wajah keduanya.
“ Hayoo, sendirian aja neng. Mau kita temenin gak nih?”, sapa Baim yang menepuk pundakku.
“ Boleh sih tapi kayanya gue bakal jadi obat nyamuk ini kalau ditemani sama kalian berdua, hahaha”, jawabku sambil mempersilahkan keduanya duduk dan bergeser agar Milly dapat duduk disampingku lalu Baim disampingnya.
Merekapun memesan beberapa makanan dan minuman. Tak lama pesanan mereka datang mereka melahap makanan sambil berbincang denganku. Aku terkadang suka iri melihat kemesraan mereka. Bukan karena aku menyukai Baim atau ingin merusak hubungan mereka ya, tapi karena aku sudah cukup lama tak memiliki seseorang yang spesial yang menemani hari-hariku. Rasanya sudah sangat lama ketika terakhir kali tangan ini digenggam erat oleh orang yang begitu aku sayang dan yang kini hanya ada bayangannya saja yang menemani.
Ya tepatnya 1,5 tahun yang lalu pada malam hari yang indah bertabur bintang dan disinari sang rembulan, aku duduk disamping seorang laki-laki yang sedang menatapku tajam. Kuteguk segelas sirup dan mencoba bersikap senormal mungkin ketika kutau arti raut wajah yang sedang menatapku itu. Denga suara sedikit serak aku memulai perbincangan.
“Ya ada apa? Tumben kamu ngajak aku ketemu malam-malam kaya gini, ini bukan hari jadian kitakan? Atau memang ada yang ingin kamu katakan?”, tanyaku dengan tangan yang mulai dingin karena gugup dan wajah sedikit pucat.
“ Bil, aku mau ngomong sama kamu. Sebelumnya aku minta maaf ya aku ngajak kamu keluar dadakan kaya ini, aku udah gak tau harus mulai dari mana dan gimana ngomongnya sama kamu. Aku benar-benar minta maaf ya...”
Kata-kata yang membuatku begitu takut untuk mendengar kelanjutan dari kalimat yang Ia ucapkan. Wajahnya pucat dan begitu menggambarkan raut penyesalan dan kesedihan.
“... aku minta maaf. Aku rasa aku sudah tidak dapat melanjutkan hubungan kita. Bukan karena aku sudah tak menyayangimu lagi, tapi aku harus memilih. Aku telah melakukan hal yang pasti menyakitimu ketika kau tau ini semua. Maafkan aku yang tak dapat menjaga hatiku seutuhnya untukmu dan maafkan aku telah berbagi cinta dengan yang lain..”
Aku pun terkejut mendengar kalimat yang baru saja kudengar. Membagi cinta dengan yang lain. Dia menduakanku. Dia mengkhianati cinta yang telah lama kami bangun berdua. Seketika bulir air mulai mengalir dipelupuk mataku. Tanganku gemetar. Jantungku berdetak kencang. Nafasku menjadi sesak. Bibir dan lidah ini kaku tak dapat berbicara.
“ Bilaa.. aku benar-benar menyesal telah menyakitimu. Maafkan aku. Aku tak pantas bersamamu lagi. Aku laki-laki yang tak baik untukmu. Maaf kita harus berakhir seperti ini. Semoga kau mendapat penggantiku yang lebih baik dan dapat setia kepadamu bukan lelaki sepertiku. Terima kasih telah menemani hari-hariku selama hampir dua tahun ini, kau wanita terbaik yang pernah kumiliki namun aku tak dapat bersamamu lebih lama lagi. Kau akan semakin terluka jika terus bersamaku.”
Aku pun mulai bangkit dari tempat dudukku. Mengusap air mata yang terus menetes dipipi ini. Sambil terbata-bata aku pun berkata kepada lelaki di depanku dengan wajah penuh kekecewaan.
“ Andi.. kenapa kamu sejahat ini sama aku. Aku benar-benar kecewa sama kamu. Aku menyesal telah mengenal dan sempat begitu sayang denganmu. Dengan orang yang kini menghancurkan kepercayaanku dan cinta yang tulus selama ini yang aku berikan. Cukup jangan pernah ganggu dan temui aku lagi.”
Aku berlari kecil menjauh darinya. Menyetop angkutan umum dan masuk kedalamnya. Kulihat lelaki tinggi putih perparas tampan itu menatap kepergianku. Saat itu aku benar-benar kacau. Beberapa orang disekelilingku, yang tak lain adalah penumpang angkutan yang lain memandangiku heran. Karena ku menangis sesegukkan seakan baru saja mendapat kabar duka yang mendalam. Tak lama angkutan yang kutumpangi berhenti depan sebuah perumahan dengan gapura berwarna hijau disekililingnya, serta terdapat pos satpam disudut kanan gapura itu. Aku mengeluarkan selembar uang lima ribu dan memberikannya kedapa pria setengah baya yang sedang duduk dibalik kemudi. Lalu aku berlari menuju rumah bercat merah dengan pagar tak begitu tinggi berwarna hitam, terletak beberapa pot tumbuhan di depannya.
Aku menuju kamar dan mengunci pintu. Ku berbaring dan menangis sejadi-jadinya meluapkan semua rasa kekecewaan dan sakit hati yang baru saja aku dapatkan. Hingga larut malam aku masih menangis. Terdengar beberapa kali pintu kamarku diketuk tapi aku tak menjawab. Ponselku berdering beberapa saat selama beberapa jam terakhir. Ku buka ponselku. Tertera dilayar ponselku hampir 80 panggilan tak terjawab dan 50 pesan baru yang belum ku baca. Semuanya dari Andi. Sudah tak penting lagi dia. Ku matikan ponselku. Dan kembali aku berbaring hingga aku terlelap.

Ponselku berdering memecah lamunanku. Ku angkat dan terdengar suara dari seberang telpon untuk memintaku segera kembali ke kelas. Telpon dari teman sekelasku Tania yang memberi tahuku kelas akan segera dimulai. Setelah menutup telpon aku berkemas untuk kembali ke kelas dan berpamit kepada kedua  sahabatku yang sedang asik makan siang.
“ Mill..Imm.. gue harus ke kelas nih, gue tinggal gapapa ya.”
Sambil pamit ke mereka aku meminum habis jus strawberry yang tadi ku beli dan menenteng tas dan laptopku, kemudian bergegas menuju kelas yang terletak tak begitu jauh dari kantin, kira-kira melewati empat ruang kelas dan satu lab. Bahasa.
          Hari ini aku kuliah sampai sore. Ketika keluar kelas kulihat langit sudah berangsur gelap dengan warna jingga keungu-unguan mewarnainya. Kampuspun sudah terlihat sepi hanya terlihat beberapa orang yang sedang berkumpul di depan lab. Bahasa. Aku pun bergegas menuju parkiran motor. Terlihat motor metic berwarna hitam dengan garis merah di bagian body-nya. Kukeluarkan kunci motorku dan kukenakan helm putihku. Kunyalakan motorku dan melesat pulang. Di tengah jalan terbesit dipikiranku untuk mampir disebuah toko buku di dekat kampus. Kubelokkan motorku memasuki area parkir toko itu. Lalu ku masuk dan menuju rak buku favoritku. Aku memilih-milih beberapa novel, ketika ingin mengambil sebuah novel aku berbarengan oleh seseorang. Tangan kami saling bersentuhan. Aku menengok dan kulihat senyum diwajah lelaki yang lumayan tinggi dan berparas manis itu.
“ Ehh.. maaf. Yaudah ini kamu duluan aja,” sambil tersenyum Ia meminta maaf kepadaku. Dengan suara serak yang menambah pesonanya. Aku mengambil buku ditangannya dan tersenyum sambil menganggukkan kepalaku, berterima kasih dan berlalu ke meja kasir. Setelah membayar beberapa buku aku pun segera pulang.
Sesampainya di rumah, aku mandi dan segera bersiap untuk makan malam bersama ibuku. Ya kami di rumah lebih sering berdua karena ayahku sedang bekerja di luar kota, ini juga tak setiap hari aku dapat makan malam bersama ibuku dikarenakan ibuku juga sibuk bekerja. Aku pun duduk disamping wanita yang terlihat begitu sejuk wajahnya. Ia tersenyum kepadaku sambil menuangkan nasi ke piring di depanku, lalu mengambil beberapa sendok sayur dan lauk dan  mempersilahkanku makan.
“ Maksih mah..” aku tersenyum kepadanya dan mulai menyuap sesendok nasi dengan lahapnya.
Seusai makan malam aku kembali ke kamarku dan membuka laptop lalu mengerjakan tugas kuliahku. Sekitar pukul 22.00 ponselku berdering. Kulihat sebuah panggilan muncul dilayar ponselku. Lalu kuangkat dan terdengar suara serak seorang wanita yang terdengar sedang menangis. Itu Milly. Mengapa Ia menangis? Ada apa ini?.
“ Milly ada apa? Lo kenapa ko nangis? Cerita sama gue mil”, aku pun panik. Lalu Milly mulai bercerita dengan suara terbata-bata. Hampir satu jam kami berbincang melalui telpon. Milly pun terdengar semakin membaik, suaranya sudah tak lagi serak dan terdengar sudah biasa saja. Akhirnya kami mengakhiri obrolan kami karena sudah larut malam.
“ Udah ya Milly sayang jangan sedih kan masih ada gue mil, ya kan Baim pergi juga buat lanjutin kuliahnya, lo harus dukung dia. Lagian kalian juga masih bisa berhubungankan, udah sekarang lo istirahat ya besok kita lanjut di kampus ya.” Aku pun menutup telpon dan menghela nafas. Milly baru saja cerita kalo Baim harus pergi ke Malaysia untuk pertukaran mahasiswa selama satu semester. Di kampus kami memang sering mengadakan pertukaran mahasiswa seperti itu dan kini Baim mewakili kampus kami untuk pergi ke Malaysia. Ya aku mengerti perasaan Milly, bagaimana rasanya jauh dari sang kekasih apalagi mereka selama ini selalu bersama menghabiskan hari-hari.
Hari ini aku pergi ke kampus agak siangan karena hari ini hanya ada satu jadwal lab. Bahasa saja. Sekitar jam 11 aku sampai di kampus dan segera menuju lab. Di tengah koridor aku tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
“ Duhh..maaf maaf gue lagi buru-buru. Lo gapapa kan?”, sambil membereskan buku yang berserakan dilantai aku meminta maaf dan aku begitu kaget ketika melihat lelaki di depanku. Ia tersenyum. Senyum yang mengingatkanku peristiwa beberapa hari yang lalu.
“ Iya gue gapapa ko. Maaf juga gue sibuk sama ponsel gue tadi jadi gak lihat jalan juga.” Seketika jantungku berdetak mendengar suaranya. Setelah berbincang beberapa saat aku kembali bergegas menuju lab.Bahasa. Selesai dari lab aku duduk di kantin sambil menunggu Milly keluar kelas.
“Tadi itu siapa ya? Dia kan cowok yang waktu itu di toko buku. Dia anak kampus sini juga? Ko aku baru liat ya. Anak Fakultas mana yah? Semester berapa?.” Pikiranku kemana-mana sampai seseorang mengagetkanku. Dengan menepuk pundakku lalu menarik tanganku.
“ Bil.. anterin gua ke salon yuk. Lo udah gak ada jam kuliahkan. Ayo lah”. Aku pun bangkit dari tempat duduk di kantin lalu berjalan disamping sahabatku menuju parkiran. kamipun menuju salon langganan kami di sekitar jalan Margonda Raya. Sampai di depan sebuah salon berinterior klasik dengan dihias beberapa bunga kamboja dipintu masuknya. Kami pun masuk dan memilih paket spa selama 90 menit.
Selesai dari salon aku dan Milly mampir ke restoran Jepang favorit kami biasanya kumpul bertiga dengan Baim. Ya karena Baim sedang di Malaysia jadi kami cuma berdua deh. Sedang asik melahap semangkuk ramen Milly mencubit tanganku gemas sambil memanglingkan wajahku ke arah seorang juru masak di restoran itu.
“Bilaa.. liat deh manis banget ya chefnya, eh dari tadi dia ngeliatin lo tau. Cieee”, sambil mengunyah makanan dimulutku aku memandangi laki-laki yang dimaksud oleh sahabatku itu. Ya laki-laki itu terlihat manis ketika Ia tersenyum kepadaku sambil membungkukan tubuhnya seakan memberi salam. Aku pun menganggukkan  kepalaku untuk membalasnya. Selama aku sering kemari aku baru tau kalau ada chef semanis dia disini. Apa karena aku tidak suka memperhatikan sekelilingku saat dengan sahabatku ini makanya aku baru melihatnya.
“ eh mil.. ko gue baru liat dia sih, selama ini kan kita sering bangetkan kesini”, akhirnya aku menanyakan itu kepada sahabatku ini. Ia pun tersenyum menggodaku. Sambil menunjukku lalu mencolek pipiku.
“Ciee..lu naksir ya? Dia udah lama ko disini, lonya aja yg terlalu cuek. Udah lama tau dia merhatiin lo”.
Hah? Apa iya dia udah lama merhatiin aku? Tapi kok Milly baru cerita sekarang ya? Duh jadi geer aku. Hahaha.
Selesai makan kami pun meminta bill. Seorang pramusaji menghampiri kami dengan pakaian khas wanita Jepang dia tersenyum dan memberi kami sebuah bill. Setelah melihat berapa yang harus kami bayar, kami menaruh beberapa kembar uang dan tiba-tiba Milly bertanya pada Pramusaji itu. Dan membuatku shock dan malu.
“ Mba.. boleh nanya gak? Itu chef yang lagi buat sushi itu siapa ya namanya, teman saya nitip salam ya buat dia”, goda Milly yang menyenggol bahuku dengan bahunya.
“ Oh itu Awan mba, salah satu chef terbaik kami disini. Nanti saya sampaikan salamnya”, pramusaji itu tersenyum dan membungkukkan tubuhnya lalu pergi dari meja kami.
Duh Milly apa-apaan sih bikin malu aja. Kan aku gak mau tau dia itu siapa dan gak mau nitip salam jugakan. Milly yang melihat wajahku yang agak cemberut namun terlihat memerah pun kembali menggodaku. Sepanjang perjalanan pulang Milly selalu membahas chef di restoran tadi.
“Bil.. kayanya lo harus deketin tuh chef deh. Lumyan bil jago masak lo kan suka banget tuh masakkan Jepang. Pas deh. Hahaha”, sambil mencolek lenganku Milly terus saja menggodaku. Sampai akhirnya kami sampai di rumah Milly. Dan aku pun kembali ke rumah.