Cinta itu Seperti Mentari Bukan Pelangi
Part I
Bayangan
wajahnya kembali menyapa malam ini. Senyum yang terpancar diwajahnya tak dapat
kulupakan. Tatapan matanya yang selalu menyejukkan hati. Namun seketika rasa
itu datang lagi. Rasa akan kekecewaan dan pengkhianatan. Teringat bagaimana dia
pergi dari hidupku. Meninggalkan sejuta rasa sakit. Air mata ini kembali
menetes. Bukan karena aku merindukannya. Tapi aku menyesal telah begitu cinta
kedapanya.
Pagi ini hembusan angin membelai tubuhku. Membawa kesejukkan
didiri ini.
“Billa...”
Sebuah suara yang begitu
aku kenal. Memanggilku. Aku pun menengok dan tersenyum kepada seorang wanita
cantik dengan dress berwarna hijau tosca. Rambutnya yang panjang dan kulitnya
yang kuning langsat menambah keanggunannya. Ia berjalan kearahku sambil membawa
dua cup es krim ditangannya. Dia adalah Milly sahabat kecilku.
“Bengong aja, mikirin
siapa sih? Mikirin gue ya? Hahaha”, sambil memberikan satu cup es krim rasa
vanilla Ia tertawa mencoba menggodaku.
“Siapa yang bengong sih?
Gue laper tau. Makasih tau aja gue lagi pingin es krim hahaha”, jawabku sambil
membuka cup es krim dan melahapnya.
Sambil melahap es krim
yang dibawakan Milly, kami bercerita dan bercanda gurau. Senyuman terpancar
diwajah kami. Wajahnya kemudian berubah memerah dan tersipu ketika nama itu Ia
sebut. Ibrahim. Ya nama itu membuatnya tersipu malu. Ia begitu antusias
menceritakan lelaki itu. Yang tidak lain adalah kekasihnya. Milly dan Ibrahim
atau yang lebih akrab dipanggil Baim memang sudah lama menjalin kasih sejak
mereka duduk di bangku SMA. Hingga kini mereka sudah menjalin kasih kurang
lebih 3 tahun lamanya.
Perkenalkan nama aku Nabilla. Anak tunggal dari keluarga
Abdulah yang tak lain adalah ayahku, Dan Dewi ibuku. Aku wanita yang cukup pendiam
dan terkadang bisa sangat jutek ketika belum mengenalku. Dengan postur tubuh
yang tak begitu tinggi sekitar 158 cm dan berat badan sekitar 60 kg. Ya aku
memang terlihat sedikit gemuk dan cubby. Rambut panjang bergelombang dengan
warna rambut hitam kemerahan. Aku mahasiswi salah satu Universitas Swasta di
Jakarta, jurusan Manajemen Keuangan.
Siang ini aku sedang duduk di kantin sibuk dengan laptop di
depanku. Dengan segelas jus strawberry dan beberapa potong kue. Ada beberapa
orang disekitarku yang sedang berbincang-bincang satu dengan yang lain yang tak
begitu kukenal. Kebiasaan ini sering aku lakukan ketika menunggu jam kosong
mata kuliah selanjutnya yang lumayan cukup lama. Sambil menghabiskan satu
potong kue ditangan kananku, dengan tangan satu lagi sibuk mengetik sms yang
membuatku tersenyum sendiri membacanya. Tak lama kemudian Milly datang bersama
dengan Baim yang menghampiriku, dengan tangan Baim yang merangkul mesra wanita
cantik disampingnya itu. Mereka terlihat sangat bahagia, terlihat dari senyum
yang mengembang di wajah keduanya.
“ Hayoo, sendirian aja
neng. Mau kita temenin gak nih?”, sapa Baim yang menepuk pundakku.
“ Boleh sih tapi kayanya
gue bakal jadi obat nyamuk ini kalau ditemani sama kalian berdua, hahaha”,
jawabku sambil mempersilahkan keduanya duduk dan bergeser agar Milly dapat
duduk disampingku lalu Baim disampingnya.
Merekapun memesan beberapa
makanan dan minuman. Tak lama pesanan mereka datang mereka melahap makanan
sambil berbincang denganku. Aku terkadang suka iri melihat kemesraan mereka.
Bukan karena aku menyukai Baim atau ingin merusak hubungan mereka ya, tapi
karena aku sudah cukup lama tak memiliki seseorang yang spesial yang menemani
hari-hariku. Rasanya sudah sangat lama ketika terakhir kali tangan ini
digenggam erat oleh orang yang begitu aku sayang dan yang kini hanya ada bayangannya
saja yang menemani.
Ya tepatnya 1,5 tahun yang
lalu pada malam hari yang indah bertabur bintang dan disinari sang rembulan,
aku duduk disamping seorang laki-laki yang sedang menatapku tajam. Kuteguk
segelas sirup dan mencoba bersikap senormal mungkin ketika kutau arti raut
wajah yang sedang menatapku itu. Denga suara sedikit serak aku memulai
perbincangan.
“Ya ada apa? Tumben kamu
ngajak aku ketemu malam-malam kaya gini, ini bukan hari jadian kitakan? Atau memang
ada yang ingin kamu katakan?”, tanyaku dengan tangan yang mulai dingin karena
gugup dan wajah sedikit pucat.
“ Bil, aku mau ngomong
sama kamu. Sebelumnya aku minta maaf ya aku ngajak kamu keluar dadakan kaya
ini, aku udah gak tau harus mulai dari mana dan gimana ngomongnya sama kamu.
Aku benar-benar minta maaf ya...”
Kata-kata yang membuatku
begitu takut untuk mendengar kelanjutan dari kalimat yang Ia ucapkan. Wajahnya
pucat dan begitu menggambarkan raut penyesalan dan kesedihan.
“... aku minta maaf. Aku
rasa aku sudah tidak dapat melanjutkan hubungan kita. Bukan karena aku sudah
tak menyayangimu lagi, tapi aku harus memilih. Aku telah melakukan hal yang
pasti menyakitimu ketika kau tau ini semua. Maafkan aku yang tak dapat menjaga
hatiku seutuhnya untukmu dan maafkan aku telah berbagi cinta dengan yang
lain..”
Aku pun terkejut mendengar
kalimat yang baru saja kudengar. Membagi cinta dengan yang lain. Dia
menduakanku. Dia mengkhianati cinta yang telah lama kami bangun berdua.
Seketika bulir air mulai mengalir dipelupuk mataku. Tanganku gemetar. Jantungku
berdetak kencang. Nafasku menjadi sesak. Bibir dan lidah ini kaku tak dapat
berbicara.
“ Bilaa.. aku benar-benar
menyesal telah menyakitimu. Maafkan aku. Aku tak pantas bersamamu lagi. Aku
laki-laki yang tak baik untukmu. Maaf kita harus berakhir seperti ini. Semoga
kau mendapat penggantiku yang lebih baik dan dapat setia kepadamu bukan lelaki
sepertiku. Terima kasih telah menemani hari-hariku selama hampir dua tahun ini,
kau wanita terbaik yang pernah kumiliki namun aku tak dapat bersamamu lebih
lama lagi. Kau akan semakin terluka jika terus bersamaku.”
Aku pun mulai bangkit dari
tempat dudukku. Mengusap air mata yang terus menetes dipipi ini. Sambil
terbata-bata aku pun berkata kepada lelaki di depanku dengan wajah penuh
kekecewaan.
“ Andi.. kenapa kamu
sejahat ini sama aku. Aku benar-benar kecewa sama kamu. Aku menyesal telah
mengenal dan sempat begitu sayang denganmu. Dengan orang yang kini
menghancurkan kepercayaanku dan cinta yang tulus selama ini yang aku berikan.
Cukup jangan pernah ganggu dan temui aku lagi.”
Aku berlari kecil menjauh
darinya. Menyetop angkutan umum dan masuk kedalamnya. Kulihat lelaki tinggi
putih perparas tampan itu menatap kepergianku. Saat itu aku benar-benar kacau.
Beberapa orang disekelilingku, yang tak lain adalah penumpang angkutan yang
lain memandangiku heran. Karena ku menangis sesegukkan seakan baru saja
mendapat kabar duka yang mendalam. Tak lama angkutan yang kutumpangi berhenti
depan sebuah perumahan dengan gapura berwarna hijau disekililingnya, serta
terdapat pos satpam disudut kanan gapura itu. Aku mengeluarkan selembar uang
lima ribu dan memberikannya kedapa pria setengah baya yang sedang duduk dibalik
kemudi. Lalu aku berlari menuju rumah bercat merah dengan pagar tak begitu
tinggi berwarna hitam, terletak beberapa pot tumbuhan di depannya.
Aku menuju kamar dan
mengunci pintu. Ku berbaring dan menangis sejadi-jadinya meluapkan semua rasa
kekecewaan dan sakit hati yang baru saja aku dapatkan. Hingga larut malam aku
masih menangis. Terdengar beberapa kali pintu kamarku diketuk tapi aku tak
menjawab. Ponselku berdering beberapa saat selama beberapa jam terakhir. Ku
buka ponselku. Tertera dilayar ponselku hampir 80 panggilan tak terjawab dan 50
pesan baru yang belum ku baca. Semuanya dari Andi. Sudah tak penting lagi dia.
Ku matikan ponselku. Dan kembali aku berbaring hingga aku terlelap.
Ponselku
berdering memecah lamunanku. Ku angkat dan terdengar suara dari seberang telpon
untuk memintaku segera kembali ke kelas. Telpon dari teman sekelasku Tania yang
memberi tahuku kelas akan segera dimulai. Setelah menutup telpon aku berkemas
untuk kembali ke kelas dan berpamit kepada kedua sahabatku yang sedang asik makan siang.
“ Mill..Imm.. gue harus ke
kelas nih, gue tinggal gapapa ya.”
Sambil pamit ke mereka aku
meminum habis jus strawberry yang tadi ku beli dan menenteng tas dan laptopku,
kemudian bergegas menuju kelas yang terletak tak begitu jauh dari kantin,
kira-kira melewati empat ruang kelas dan satu lab. Bahasa.
Hari ini aku kuliah sampai sore. Ketika keluar kelas
kulihat langit sudah berangsur gelap dengan warna jingga keungu-unguan
mewarnainya. Kampuspun sudah terlihat sepi hanya terlihat beberapa orang yang
sedang berkumpul di depan lab. Bahasa. Aku pun bergegas menuju parkiran motor.
Terlihat motor metic berwarna hitam dengan garis merah di bagian body-nya.
Kukeluarkan kunci motorku dan kukenakan helm putihku. Kunyalakan motorku dan
melesat pulang. Di tengah jalan terbesit dipikiranku untuk mampir disebuah toko
buku di dekat kampus. Kubelokkan motorku memasuki area parkir toko itu. Lalu ku
masuk dan menuju rak buku favoritku. Aku memilih-milih beberapa novel, ketika
ingin mengambil sebuah novel aku berbarengan oleh seseorang. Tangan kami saling
bersentuhan. Aku menengok dan kulihat senyum diwajah lelaki yang lumayan tinggi
dan berparas manis itu.
“ Ehh.. maaf. Yaudah ini
kamu duluan aja,” sambil tersenyum Ia meminta maaf kepadaku. Dengan suara serak
yang menambah pesonanya. Aku mengambil buku ditangannya dan tersenyum sambil menganggukkan
kepalaku, berterima kasih dan berlalu ke meja kasir. Setelah membayar beberapa
buku aku pun segera pulang.
Sesampainya di rumah, aku
mandi dan segera bersiap untuk makan malam bersama ibuku. Ya kami di rumah lebih
sering berdua karena ayahku sedang bekerja di luar kota, ini juga tak setiap hari
aku dapat makan malam bersama ibuku dikarenakan ibuku juga sibuk bekerja. Aku
pun duduk disamping wanita yang terlihat begitu sejuk wajahnya. Ia tersenyum
kepadaku sambil menuangkan nasi ke piring di depanku, lalu mengambil beberapa
sendok sayur dan lauk dan
mempersilahkanku makan.
“ Maksih mah..” aku
tersenyum kepadanya dan mulai menyuap sesendok nasi dengan lahapnya.
Seusai makan malam aku
kembali ke kamarku dan membuka laptop lalu mengerjakan tugas kuliahku. Sekitar
pukul 22.00 ponselku berdering. Kulihat sebuah panggilan muncul dilayar
ponselku. Lalu kuangkat dan terdengar suara serak seorang wanita yang terdengar
sedang menangis. Itu Milly. Mengapa Ia menangis? Ada apa ini?.
“ Milly ada apa? Lo kenapa
ko nangis? Cerita sama gue mil”, aku pun panik. Lalu Milly mulai bercerita dengan
suara terbata-bata. Hampir satu jam kami berbincang melalui telpon. Milly pun
terdengar semakin membaik, suaranya sudah tak lagi serak dan terdengar sudah
biasa saja. Akhirnya kami mengakhiri obrolan kami karena sudah larut malam.
“ Udah ya Milly sayang
jangan sedih kan masih ada gue mil, ya kan Baim pergi juga buat lanjutin
kuliahnya, lo harus dukung dia. Lagian kalian juga masih bisa berhubungankan,
udah sekarang lo istirahat ya besok kita lanjut di kampus ya.” Aku pun menutup
telpon dan menghela nafas. Milly baru saja cerita kalo Baim harus pergi ke
Malaysia untuk pertukaran mahasiswa selama satu semester. Di kampus kami memang
sering mengadakan pertukaran mahasiswa seperti itu dan kini Baim mewakili
kampus kami untuk pergi ke Malaysia. Ya aku mengerti perasaan Milly, bagaimana
rasanya jauh dari sang kekasih apalagi mereka selama ini selalu bersama
menghabiskan hari-hari.
Hari ini aku pergi ke
kampus agak siangan karena hari ini hanya ada satu jadwal lab. Bahasa saja.
Sekitar jam 11 aku sampai di kampus dan segera menuju lab. Di tengah koridor
aku tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
“ Duhh..maaf maaf gue lagi
buru-buru. Lo gapapa kan?”, sambil membereskan buku yang berserakan dilantai
aku meminta maaf dan aku begitu kaget ketika melihat lelaki di depanku. Ia
tersenyum. Senyum yang mengingatkanku peristiwa beberapa hari yang lalu.
“ Iya gue gapapa ko. Maaf
juga gue sibuk sama ponsel gue tadi jadi gak lihat jalan juga.” Seketika
jantungku berdetak mendengar suaranya. Setelah berbincang beberapa saat aku kembali
bergegas menuju lab.Bahasa. Selesai dari lab aku duduk di kantin sambil
menunggu Milly keluar kelas.
“Tadi itu siapa ya? Dia
kan cowok yang waktu itu di toko buku. Dia anak kampus sini juga? Ko aku baru
liat ya. Anak Fakultas mana yah? Semester berapa?.” Pikiranku kemana-mana
sampai seseorang mengagetkanku. Dengan menepuk pundakku lalu menarik tanganku.
“ Bil.. anterin gua ke
salon yuk. Lo udah gak ada jam kuliahkan. Ayo lah”. Aku pun bangkit dari tempat
duduk di kantin lalu berjalan disamping sahabatku menuju parkiran. kamipun
menuju salon langganan kami di sekitar jalan Margonda Raya. Sampai di depan
sebuah salon berinterior klasik dengan dihias beberapa bunga kamboja dipintu
masuknya. Kami pun masuk dan memilih paket spa selama 90 menit.
Selesai dari salon aku dan
Milly mampir ke restoran Jepang favorit kami biasanya kumpul bertiga dengan
Baim. Ya karena Baim sedang di Malaysia jadi kami cuma berdua deh. Sedang asik
melahap semangkuk ramen Milly mencubit tanganku gemas sambil memanglingkan
wajahku ke arah seorang juru masak di restoran itu.
“Bilaa.. liat deh manis
banget ya chefnya, eh dari tadi dia ngeliatin lo tau. Cieee”, sambil mengunyah
makanan dimulutku aku memandangi laki-laki yang dimaksud oleh sahabatku itu. Ya
laki-laki itu terlihat manis ketika Ia tersenyum kepadaku sambil membungkukan
tubuhnya seakan memberi salam. Aku pun menganggukkan kepalaku untuk membalasnya. Selama aku sering
kemari aku baru tau kalau ada chef semanis dia disini. Apa karena aku tidak
suka memperhatikan sekelilingku saat dengan sahabatku ini makanya aku baru
melihatnya.
“ eh mil.. ko gue baru
liat dia sih, selama ini kan kita sering bangetkan kesini”, akhirnya aku menanyakan
itu kepada sahabatku ini. Ia pun tersenyum menggodaku. Sambil menunjukku lalu
mencolek pipiku.
“Ciee..lu naksir ya? Dia
udah lama ko disini, lonya aja yg terlalu cuek. Udah lama tau dia merhatiin
lo”.
Hah? Apa iya dia udah lama
merhatiin aku? Tapi kok Milly baru cerita sekarang ya? Duh jadi geer aku.
Hahaha.
Selesai makan kami pun meminta
bill. Seorang pramusaji menghampiri kami dengan pakaian khas wanita Jepang dia
tersenyum dan memberi kami sebuah bill. Setelah melihat berapa yang harus kami
bayar, kami menaruh beberapa kembar uang dan tiba-tiba Milly bertanya pada
Pramusaji itu. Dan membuatku shock dan malu.
“ Mba.. boleh nanya gak?
Itu chef yang lagi buat sushi itu siapa ya namanya, teman saya nitip salam ya
buat dia”, goda Milly yang menyenggol bahuku dengan bahunya.
“ Oh itu Awan mba, salah
satu chef terbaik kami disini. Nanti saya sampaikan salamnya”, pramusaji itu tersenyum
dan membungkukkan tubuhnya lalu pergi dari meja kami.
Duh Milly apa-apaan sih
bikin malu aja. Kan aku gak mau tau dia itu siapa dan gak mau nitip salam
jugakan. Milly yang melihat wajahku yang agak cemberut namun terlihat memerah
pun kembali menggodaku. Sepanjang perjalanan pulang Milly selalu membahas chef
di restoran tadi.
“Bil.. kayanya lo harus
deketin tuh chef deh. Lumyan bil jago masak lo kan suka banget tuh masakkan
Jepang. Pas deh. Hahaha”, sambil mencolek lenganku Milly terus saja menggodaku.
Sampai akhirnya kami sampai di rumah Milly. Dan aku pun kembali ke rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar