Part III
Ia melepaskan pelukkannya
dan mengusap air matanya. Terlihat benar-benar kacau keadaannya. Mengapa Ia
begitu terpukul setelah bertemu dengan ayahnya? Apa maksudnya dengan pernyataan
kalau ayahnyalah yang membuat ibunya terbaring di rumah sakit seperti saat
ini?. Aku tak berani untuk bertanya banyak padanya. Namun sepertinya Ia tau
raut penasaran di wajahku. Ia kemudian mulai bercerita kepadaku.
“Maaf ya atas kejadian
barusan. Dan maaf gak seharusnya tadi lo liat gue sama bokap kaya gitu...”,
dengan wajah kecewa Ia menggenggam tanganku.
“ ....Nyokap gue kena
serangan jantung beberapa minggu lalu. Nyokap gitu karena nyokap tau kalo bokap
punya istri lagi. Dan punya anak cewek seumuran ade gua 18thn. Berarti selama
ini bokap gue udah khianatin cinta nyokap gue selama 18 tahun. Gue benci bokap
gue. Gue benci kenapa harus punya bokap kaya dia. Gue kasian sama nyokap.
Nyokap tuh istri yang baik banget. Ibu terbaik. Malaikat tanpa sayap yang tuhan
kirim buat gue, kakak, dan ade gue. Tapi sekarang dia terbaring lemah gara-gara
pria yang selama ini dia cintai. Yang sebagian hidupnya dihabiskan bersama pria
itu. Udah 29 thn bokap nyokap gue nikah. Dan selama 18thn terakhir ini bokap
gue bohongin kita semua dengan sikapnya yang tegas dan sok bijak, seakan-akan
kepala keluarga yang baik. Tapi semua palsu. Gue sakit. Mungkin nyokap gue
orang paling sakit atas kejadian ini. Setelah gue tau semuanya gue sama kakak
gue bujuk nyokap buat pindah ke Jakarta ke rumah kakak gue disini. Mulai
kehidupan baru dan lupain semuanya. Lupain semua tentang pria yang udah
hancurin kita semua. Dan itu sebabnya sekarang gue kuliah disini dan nyokap di
rawat disini. Saat ini cuma gua satu-satunya cowok dikeluarga gua yang harus
jaga nyokap dan ade gua. Kakak gua udah berkeluarga jadi gak bisa full sama
nyokap dan ade gua. Otomatis gua yang gantiin peran bokap dikeluarga saat ini. Makasih
ya Bil lo udah mau jenguk nyokap gue. Lo cewek pertama yang gue ajak buat
jenguk nyokap gue dan keliatannya nyokap suka sama lo deh. Maaf ya gue tadi
refleks meluk lo tadi. Gue gak kuat aja kalo inget apa yang bokap lakuin ke
nyokap gue.”
Bulir air mata menetes
dipipiku mendengar ceritanya. Hatiku seakan tertusuk mendengarnya. Aku mengerti
bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kita sayang. Ya dulu aku pernah merasakannya
saat bersama Andi. Aku tak dapat berkata apa-apa. Aku hanya terdiam memandangi
wajah lelaki di depanku. Raut wajahnya kini sudah tak seperti tadi. Kini
wajahnya mulai kembali tenang. Wajah tampannya. Dan senyum manis dibibirnya
kini mulai mengembang. Ia mengusap air mata dipipiku.
“ Udah kenapa lo yang
nangis sih? . Kalo nangis nanti pipinya kempes lho, hehehe”. Ia mencoba
menggodaku sambil mencubit pipiku pelan. Aku pun tersenyum. Kemudian kami
melanjutkan perjalanan pulang dan keluar dari are parkir rumah sakit. Tak
terasa langit sudah gelap. Di perjalanan kami mampir untuk makan malam di
sebuah restoran di Margonda Raya, aku tidak menyangka kalo dia akan mengajakku
ke tempat ini.
“ Kita makan disini aja
ya. Lo suka makanan Jepang gak? Disini makanannya enak lho, gue aja pertama
makan disini langsung ketagihan.”
“ Suka ko. Gue suka
makanan Jepang. Dan lo tau gak ini tempat favorit gue biasa makan tau sama
sahabat-sahabat gue.”
“ Hah? Srius lo? Wah bisa
kebetulan gini ya. Yaudah ayok kita turun”. Dimas lalu membukakan aku pintu dan
menggandengku turun, masuk ke dalam restoran. Di depan pintu masuk sudah ada
pramusaji dengan pakaian khas Jepang menyambut kami dan mengantar kami kemeja
yang kosong. Kamipun memesan beberapa makanan, seperti yakiniku dan syabu – syabu. Beserta
dua greentea. Tiba-tiba saja aku teringat tentang seorang chef di sini.
Bagaimana jika Ia melihatku dengan Dimas? Apakah Ia akan mengira Dimas ini
pasanganku?. Kulihat sekelilingku tak terlihat chef itu. Ya mungkin Ia sedang
libur. Beberapa saat kemudian pesanan kami datang. Dimas mulai merebus beberapa
sayuran dan daging kedalam wajan syabu-syabu panas yang telah tersedia. Lalu
Dimas menuangkanku beberapa potong daging dan sayuran ke mangkukku.
Mempersilahkanku makan. Kusuap satu potong daging. Kulihat Dimas sedang asyik
memasukan sayuran kedalam wajan. Lalu ku ambil potongan daging dimangkukku dan
kuarahkan kepadanya. Sambil memberi isarat agar dia membuka mulutnya. Dia
membuka mulutnya dan menyantap makanan dari tanganku. Dia tersenyum manis
sekali. Entah mengapa aku baru saja kenal dengannya namun aku merasa begitu
nyaman dengannya. Apa iya ini yang disebut cinta pada pandangan pertama?. Tapi
bagaimana kalau dia hanya menganggapku teman biasa?, lagipula aku baru beberapa
hari kenal dengannya.
Setelah dirasa cukup Dimas
pun mulai melahap makanan dimangkuknya. Selesai makan kamipun bergegas pulang.
Ketika kami ingin keluar restoran kami berpapasan dengan seorang laki-laki. Ternyata
itu chef yang kucari tadi. Namun Ia tak memakai baju chefnya seperti biasa, Ia
mengenakan kaos dan jeans. Ia menatapku dan Dimas dengan sedikit raut
kekecewaan diwajahnya. Ia berlalu dan memasuki pintu samping restoran tersebut.
Dimaspun membukakanku pintu mempersilahkanku masuk. Lalu kami keluar pakiran
dan melesat ke rumahku. Kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 21.00. Sebenarnya
aku kasihan sama Dimas harus mengantarku pulang lalu kembali lagi untuk menjaga
ibunya di rumah sakit. Sepanjang jalan kami bercerita dan bercanda gurau. Dimas
cowok yang asik untuk diajak berbincang seperti ini. Terlebih lagi aku orangnya
jarang banget mudah akrab dengan cowok kaya gini. Dimas itu beda, Ia bisa buat
aku nyaman gitu aja didekat dia, padahal aku baru saja mengenalnya. Tak terasa
kami sudah memasuki gapura perumahanku dan tak jauh dari situ sudah terlihat
rumahku. Sambil memutar balik mobilnya aku berpamitan kepada Dimas. Berterima
kasih telah mengenalkanku kepada ibunya, mengajakku makan malam, dan
mengantarku pulang.
“ Dim, makasih ya buat
hari ini. Makasih makan malamnya, kenyang abis. Dan makasih udah anter sampai
rumah. Salam ya buat ibu lo. Hati-hati dijalan ya.”
Sambil tersenyum, Dimas
mematikan mesin mobilnya dan melihat kearahku.
“ Sama-sama cubby, makasih
juga udah mau jenguk ibu gue. Dengerin cerita gue. Oiya tentang ya tadi gue
harap Cuma kita aja ya yang tau. Ya lo pahamlah. Yaudah masuk sana udah malam
terus istirahat, jangan lupa mimpiin gue ya. Hehehe”, setelah mencubit pipiku
Dimas turun dan membukakanku pintu. Kubuka pagar rumahku dan masuk kehalaman
rumahku. Ia masih berdiri memandangiku. Aku pun melambaikan tangan ke arahnya.
Ia tersenyum dan membalas melambaikan tangannya. Lalu kubuka pintu dan masuk ke
dalam rumah. Tak lama kudengar suara
mobil Dimas pergi dari depan rumahku. Kulihat dari balik jendela
rumahku, melihat kepergiannya dan berharap dapat bertemu denganya esok hari.
Aku pun pergi menuju
kamar. Membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Namun terdengar suara pintu
pagar terbuka. Aku berlari kecil melihat dari balik jendela kamarku. Kulihat
seorang wanita separuh baya masuk dan menggembok pagar dengan raut wajah yang
kelelahan. Aku berlari untuk membukakannya pintu. Menyambutnya dengan senyuman
dan membawakan tas ditangannya. Ku letakkan tas itu dikamar ibuku, lalu ku
buatkan secangkir teh hangat untuknya. Meletakkannya dimeja makan. Setelah itu
aku kembali kekamar dan pergi tidur.
“ Yah, kenapa lagi ini motor gue”, ditengah jalan ketika
berangkat ke kampus motorku mati begitu saja. Aku panik karena aku tidak
mengerti tentang motor. Mana kampus masih jauh. Aku terpaksa mendorong motorku
dan mencari bengkel terdekat. Untung saja sekitar 100m dari tempat motorku
mogok ada bengkel. Lalu aku parkir motorku di depan bengkel. Masuk dan
berbicara pada resepsionis bengkel tersebut. Lalu datanglah seorang mekanik
untuk melihat kondisi motorku. Kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan hampir
pukul 8.45 sedangkan perkuliahan akan dimulai pukul 9.00. Kutitipkan motorku
dibengkel dan menyetop angkutan umum untuk menuju kampus. Sesampainya di kampus
aku berlari menuju kelas. Sambil terngah-engah aku mengetuk pintu. Dan ternyata
belum ada dosen di kelas.
Siang
ini aku janjian sama Milly untuk makan siang bersama di kantin kampus. Kulihat
sahabatku sedang duduk di sebuah meja di sudut kantin sambil terlihat asik
dengan ponselnya.
“ Hayoo.. senyum-senyum
sendiri”, sapaku pada sahabatku itu.
“ Ihh Billa..orang gua
lagi chat nih sama Baim. Gue kangen banget sama dia. Gak kerasa udah hampir dua
bulan dia di Malaysia”, tiba-tiba raut sedih muncul diwajah wanita mungilnya
itu. Kurangkul sahabatku itu. Mencoba menghiburnya.
“ Udah jangan sedih ah.
Jaman udah canggih kali lo. Ada skype lo bisa kan tuh skype sama dia. Inget
kalo dia liat lo sedih pasti dia disana kuliahnya gak tenangkan. Ayo semangat
ah Milly”, kemudian ku cubit pipi sahabatku itu. Kulihat ia tersenyum. Lalu
akupun bangkit dari tempat duduk memesan makanan. Aku berjalan ketempat stand bakso.
Memesan semangkuk bakso dan segelas jus mellon. Ketika aku ingin kembali ke
mejaku, tiba-tiba seorang lelaki memanggilku. Aku menengok kearah suara itu
datang. Seketika wajahku seakan memerah melihat lelaki itu. Lelaki dengan kemeja
biru dan jeans dan membawa sepuah nampan yang berisi makanan.
“ Hai Bil.. sama siapa?
Makan bareng yuk”, sapa lelaki itu sambil tersenyum kepadaku.
“ Hai Dimas. Gue sama
sahabat gue tuh yang lagi duduk disana. Gabung aja yuk sama kita”, sambil berjalan
ke mejaku Dimas mengikutiku. Terlihat wajah Milly terkejut melihat lelaki
dibelakangku ini seolah-olah iya sedang bermimpi. Lalu ku persilahkan Dimas
untuk duduk dan memperkenalkan sahabatku.
“ Oiya Dim. Ini sahabat
gue dari kecil Milly. Milly ini Dimas lo taukan dia siapa”, terlihat Milly
masih tak percaya. Dimas mengulurkan tangannya dan berkenalan dengan Milly.
“ Bil.. ternyata yang lo
bilang di acara musik waktu itu bener? Ini cowok yang lu ceritain? Dimas
drummer band kampus kita”, Milly sangat antusias melihat Dimas satu meja dengan
kami. Dimas pun tersenyum melihat tingkah sahabatku ini. Tak lama pesananku
datang. Kami makan sambil berbincang bersama. Tak terasa kami harus kembali ke
kelas kami masing-masing. Ketika aku bangkit dari tempat dudukku Dimas berdiri
disampingku dan berbisik..
“ Pulang bareng ya”, ia
berbisik sambil mencubit pipiku. Aku tersenyum dan mengangguk. Milly yang
melihatnya menghampiriku dan mencubit lenganku. Dimaspun berlalu ke kelasnya.
“ Bil.. lo harus cerita
sama gue gimana lo bisa deket dan kenal sama Dimas. Billa itu Dimas. OMG”, aku
hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan sahabatku itu. Ia mengejarku dan
memaksaku becerita. Akupun berjanji akan menelponnya nanti malam untuk
bercerita. Awalnya ia ingin mendengar langsung cerita dariku namun aku harus
segera masuk kelas.
Di tengah jam perkuliahan
ponselku berdering. Kulihat ponselku. Ada pesan masuk dan aku membukanya.
Dimas : cubby keluar jam brp?
Me : sejam lgi. Jam 5 dim..
Dimas : oke, kita sama. Jangan lupa nanti gue tunggu di
parkiran ya
Me : oke sampai nanti ya :D
Dimas : oke :D
Ternyata itu pesan dari
Dimas. Akupun tak sabar menunggu jam pulang tiba. Kulihat jam didinding begitu
lama berdetik. Tiba-tiba kuterbayang wajah Dimas yang sedang tersenyum padaku.
Kembali jantungku berdetak kencang. Wajahku merona. Apa iya aku jatuh hati sama
Dimas? Oh rasanya sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini sejak
lama. Dimas hadir membawa kembali senyuman dan kebahagiaan yang dulu sempat
hilang.
Jam
perkuliahan pun berkhir, akupun segera keluar kelas dan menuju parkiran. Dari
kejauhan kulihat seorang pria sedang bersandar disebuah mobil berwarna hitam
itu. Ia melambaikan tangannya ke arahku. Akupun membalas dengan melambaikan
tanganku. Dimas lalu membukakanku pintu dan mempersilahkanku masuk.
“ Oke
kemana kita nih? Lo gak buru-buru pulangkan? Kita jalan dulu yuk”, sambil
menyalakan mesin mobilnya Dimas mengajakku jalan.
“
Hemmm.. gak ada ko, gua gak buru-buru sih. Jalan kemana ya yang asik?”.
“ Bagus
deh kalo gak buru-buru. Kita nonton yuk ada film baru nih katanya seru, gimana?”.
“ Wah
boleh tuh. Yaudah kita nonton aja”.
Kamipun melesat menuju
sebuah mall yang terdapat sebuah bioskop didalamnya. Tak lama sekitar 10 menit
kamipun tiba dan memasuki area parkir mall tersebut. Dimas memarkir mobilnya
dan turun membukakanku pintu. Ia sangat memperlakukanku dengan manis sekali,
membuatku semakin menyukainya. Disekitar area parkir tiba-tiba pandanganku
tertuju kepada sepasang kekasih yang sedang berjalan dan bergandengan mesra
itu. Sial. Itu Andi dan pacarnya. Oh hatiku tiba-tiba terasa teriris
melihatnya. Dimas yang sedang berjalan disampingkupun melihat heran diriku.
“ Bill..lo kenapa? Ko muka
lo asem gitu sih? Liatin siapa sih?”, sambil bertanya ia melihat kemana arah
pandanganku.
“ Lo kenal mereka, bil? Apa
itu mantan lo ya?”.
“ Iya dia Andi mantan gua.
Kita janagn nonton disini deh yuk, gua males kalo ketemu sama dia”, akupun
memutar balik tubuhku erjalan kembali ke mobil Dimas.
“ Ehh, ngapain sih? Udah tenang
aja ada gua ini. Ayo ah jangan cemen deh”, Dimas menarik tanganku dan
menggandengnya menuju pintu masuk mall itu. Kamipun berpapasan dengan Andi dan
pacarnya. Dimas kemudian merangkul pinggangku dan mendekatkan ke tubuhnya. Sambil
berbisik kepadaku.
“ Sorry gua gak maksud. Relaks
aja ya”, akupun menganggukkan kepalaku tanda menyetujuinya.
Andi menengok kearahku dan
Dimas. Dia mengkerutkan dahinya seakan terkejut melihat mantannya ini
digandengan seoranng lelaki. Ketika ia ingin menghampiriku, perempuan disebelahnya
menariknya masuk ke sebuah toko sepatu. Akupun pura-pura tak melihatnya dan
berlalu menaiki eskalator bersama Dimas. Sampai di depan bioskop Dimas masih
merangkulku. Entah saat ini aku harus merasa bahagia atau sedih. Aku memang
sudah melupakan Andi tapi kenapa kita harus bertemu lagi setelah sekian lama.
“ Bill.. gua beli tiket
dulu ya, lo tunggu disini gapapa ya”, Dimas melepaskan rangkulannya dan
berjalan menuju meja tempat pembelian tiket. Akupun menunggu disebuah sofa
berwarna merah dan panjang. Serta beberapa orang yang juga duduk di sampingku. Tak
begitu lama Dimas menghampiriku. Lalu duduk disampingku. Ia menatapku seakan
ada sesuatu yang ia tanyakan namun raut ragu muncul diwajahnya dan kemudian
memalingkan wajahnya dariku.
“ Ada apa dim? Kayanya ada
yang lo mau tanyain?”, aku pun menyentuh pundaknya dan bertanya.
“ Hemm.. gapapa sih cuma
mau tanya kalo boleh tau tadi itu mantan lo yang terakhir kemarin?”. Akhirnya pertanyaan
itu pun muncul darinya. Aku sudah bisa tebak kalau Dimas pasti menanyakannya.
“ Iya dia Andi mantan gua.
Kami udah putus lama sekitar hampir 2 tahun yang lalu dan baru kali ini gua
ketemu dia lagi sama dia.”
“ Emang putusnya kenapa? Sorry
ni bukannya mau ngungkit masa lalu lo ya”.
“ Dia ngeduain gua”. Jawaban
singkat dariku. Kemudian Dimas mengerutkan keningnya. Seakan merasa bersalah
telah menanyakan hal itu.
“ Maaf
ya gua gak bermaksud”, kemudian Dimas menggenggam tanganku sambil meminta maaf
atas pertanyaannya. Aku pun hanya tersenyum dan mengangguk .