Senin, 08 September 2014

Cinta itu Seperti Mentari bukan Pelangi #part III



Part III
Ia melepaskan pelukkannya dan mengusap air matanya. Terlihat benar-benar kacau keadaannya. Mengapa Ia begitu terpukul setelah bertemu dengan ayahnya? Apa maksudnya dengan pernyataan kalau ayahnyalah yang membuat ibunya terbaring di rumah sakit seperti saat ini?. Aku tak berani untuk bertanya banyak padanya. Namun sepertinya Ia tau raut penasaran di wajahku. Ia kemudian mulai bercerita kepadaku.
“Maaf ya atas kejadian barusan. Dan maaf gak seharusnya tadi lo liat gue sama bokap kaya gitu...”, dengan wajah kecewa Ia menggenggam tanganku.
“ ....Nyokap gue kena serangan jantung beberapa minggu lalu. Nyokap gitu karena nyokap tau kalo bokap punya istri lagi. Dan punya anak cewek seumuran ade gua 18thn. Berarti selama ini bokap gue udah khianatin cinta nyokap gue selama 18 tahun. Gue benci bokap gue. Gue benci kenapa harus punya bokap kaya dia. Gue kasian sama nyokap. Nyokap tuh istri yang baik banget. Ibu terbaik. Malaikat tanpa sayap yang tuhan kirim buat gue, kakak, dan ade gue. Tapi sekarang dia terbaring lemah gara-gara pria yang selama ini dia cintai. Yang sebagian hidupnya dihabiskan bersama pria itu. Udah 29 thn bokap nyokap gue nikah. Dan selama 18thn terakhir ini bokap gue bohongin kita semua dengan sikapnya yang tegas dan sok bijak, seakan-akan kepala keluarga yang baik. Tapi semua palsu. Gue sakit. Mungkin nyokap gue orang paling sakit atas kejadian ini. Setelah gue tau semuanya gue sama kakak gue bujuk nyokap buat pindah ke Jakarta ke rumah kakak gue disini. Mulai kehidupan baru dan lupain semuanya. Lupain semua tentang pria yang udah hancurin kita semua. Dan itu sebabnya sekarang gue kuliah disini dan nyokap di rawat disini. Saat ini cuma gua satu-satunya cowok dikeluarga gua yang harus jaga nyokap dan ade gua. Kakak gua udah berkeluarga jadi gak bisa full sama nyokap dan ade gua. Otomatis gua yang gantiin peran bokap dikeluarga saat ini. Makasih ya Bil lo udah mau jenguk nyokap gue. Lo cewek pertama yang gue ajak buat jenguk nyokap gue dan keliatannya nyokap suka sama lo deh. Maaf ya gue tadi refleks meluk lo tadi. Gue gak kuat aja kalo inget apa yang bokap lakuin ke nyokap gue.”
Bulir air mata menetes dipipiku mendengar ceritanya. Hatiku seakan tertusuk mendengarnya. Aku mengerti bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kita sayang. Ya dulu aku pernah merasakannya saat bersama Andi. Aku tak dapat berkata apa-apa. Aku hanya terdiam memandangi wajah lelaki di depanku. Raut wajahnya kini sudah tak seperti tadi. Kini wajahnya mulai kembali tenang. Wajah tampannya. Dan senyum manis dibibirnya kini mulai mengembang. Ia mengusap air mata dipipiku.
“ Udah kenapa lo yang nangis sih? . Kalo nangis nanti pipinya kempes lho, hehehe”. Ia mencoba menggodaku sambil mencubit pipiku pelan. Aku pun tersenyum. Kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang dan keluar dari are parkir rumah sakit. Tak terasa langit sudah gelap. Di perjalanan kami mampir untuk makan malam di sebuah restoran di Margonda Raya, aku tidak menyangka kalo dia akan mengajakku ke tempat ini.
“ Kita makan disini aja ya. Lo suka makanan Jepang gak? Disini makanannya enak lho, gue aja pertama makan disini langsung ketagihan.”
“ Suka ko. Gue suka makanan Jepang. Dan lo tau gak ini tempat favorit gue biasa makan tau sama sahabat-sahabat gue.”
“ Hah? Srius lo? Wah bisa kebetulan gini ya. Yaudah ayok kita turun”. Dimas lalu membukakan aku pintu dan menggandengku turun, masuk ke dalam restoran. Di depan pintu masuk sudah ada pramusaji dengan pakaian khas Jepang menyambut kami dan mengantar kami kemeja yang kosong. Kamipun memesan beberapa makanan, seperti yakiniku dan syabu – syabu. Beserta dua greentea. Tiba-tiba saja aku teringat tentang seorang chef di sini. Bagaimana jika Ia melihatku dengan Dimas? Apakah Ia akan mengira Dimas ini pasanganku?. Kulihat sekelilingku tak terlihat chef itu. Ya mungkin Ia sedang libur. Beberapa saat kemudian pesanan kami datang. Dimas mulai merebus beberapa sayuran dan daging kedalam wajan syabu-syabu panas yang telah tersedia. Lalu Dimas menuangkanku beberapa potong daging dan sayuran ke mangkukku. Mempersilahkanku makan. Kusuap satu potong daging. Kulihat Dimas sedang asyik memasukan sayuran kedalam wajan. Lalu ku ambil potongan daging dimangkukku dan kuarahkan kepadanya. Sambil memberi isarat agar dia membuka mulutnya. Dia membuka mulutnya dan menyantap makanan dari tanganku. Dia tersenyum manis sekali. Entah mengapa aku baru saja kenal dengannya namun aku merasa begitu nyaman dengannya. Apa iya ini yang disebut cinta pada pandangan pertama?. Tapi bagaimana kalau dia hanya menganggapku teman biasa?, lagipula aku baru beberapa hari kenal dengannya.
Setelah dirasa cukup Dimas pun mulai melahap makanan dimangkuknya. Selesai makan kamipun bergegas pulang. Ketika kami ingin keluar restoran kami berpapasan dengan seorang laki-laki. Ternyata itu chef yang kucari tadi. Namun Ia tak memakai baju chefnya seperti biasa, Ia mengenakan kaos dan jeans. Ia menatapku dan Dimas dengan sedikit raut kekecewaan diwajahnya. Ia berlalu dan memasuki pintu samping restoran tersebut. Dimaspun membukakanku pintu mempersilahkanku masuk. Lalu kami keluar pakiran dan melesat ke rumahku. Kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 21.00. Sebenarnya aku kasihan sama Dimas harus mengantarku pulang lalu kembali lagi untuk menjaga ibunya di rumah sakit. Sepanjang jalan kami bercerita dan bercanda gurau. Dimas cowok yang asik untuk diajak berbincang seperti ini. Terlebih lagi aku orangnya jarang banget mudah akrab dengan cowok kaya gini. Dimas itu beda, Ia bisa buat aku nyaman gitu aja didekat dia, padahal aku baru saja mengenalnya. Tak terasa kami sudah memasuki gapura perumahanku dan tak jauh dari situ sudah terlihat rumahku. Sambil memutar balik mobilnya aku berpamitan kepada Dimas. Berterima kasih telah mengenalkanku kepada ibunya, mengajakku makan malam, dan mengantarku pulang.
“ Dim, makasih ya buat hari ini. Makasih makan malamnya, kenyang abis. Dan makasih udah anter sampai rumah. Salam ya buat ibu lo. Hati-hati dijalan ya.”
Sambil tersenyum, Dimas mematikan mesin mobilnya dan melihat kearahku.
“ Sama-sama cubby, makasih juga udah mau jenguk ibu gue. Dengerin cerita gue. Oiya tentang ya tadi gue harap Cuma kita aja ya yang tau. Ya lo pahamlah. Yaudah masuk sana udah malam terus istirahat, jangan lupa mimpiin gue ya. Hehehe”, setelah mencubit pipiku Dimas turun dan membukakanku pintu. Kubuka pagar rumahku dan masuk kehalaman rumahku. Ia masih berdiri memandangiku. Aku pun melambaikan tangan ke arahnya. Ia tersenyum dan membalas melambaikan tangannya. Lalu kubuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kudengar suara  mobil Dimas pergi dari depan rumahku. Kulihat dari balik jendela rumahku, melihat kepergiannya dan berharap dapat bertemu denganya esok hari.
Aku pun pergi menuju kamar. Membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Namun terdengar suara pintu pagar terbuka. Aku berlari kecil melihat dari balik jendela kamarku. Kulihat seorang wanita separuh baya masuk dan menggembok pagar dengan raut wajah yang kelelahan. Aku berlari untuk membukakannya pintu. Menyambutnya dengan senyuman dan membawakan tas ditangannya. Ku letakkan tas itu dikamar ibuku, lalu ku buatkan secangkir teh hangat untuknya. Meletakkannya dimeja makan. Setelah itu aku kembali kekamar dan pergi tidur.

          “ Yah, kenapa lagi ini motor gue”, ditengah jalan ketika berangkat ke kampus motorku mati begitu saja. Aku panik karena aku tidak mengerti tentang motor. Mana kampus masih jauh. Aku terpaksa mendorong motorku dan mencari bengkel terdekat. Untung saja sekitar 100m dari tempat motorku mogok ada bengkel. Lalu aku parkir motorku di depan bengkel. Masuk dan berbicara pada resepsionis bengkel tersebut. Lalu datanglah seorang mekanik untuk melihat kondisi motorku. Kulihat jam ditanganku sudah menunjukkan hampir pukul 8.45 sedangkan perkuliahan akan dimulai pukul 9.00. Kutitipkan motorku dibengkel dan menyetop angkutan umum untuk menuju kampus. Sesampainya di kampus aku berlari menuju kelas. Sambil terngah-engah aku mengetuk pintu. Dan ternyata belum ada dosen di kelas.
Siang ini aku janjian sama Milly untuk makan siang bersama di kantin kampus. Kulihat sahabatku sedang duduk di sebuah meja di sudut kantin sambil terlihat asik dengan ponselnya.
“ Hayoo.. senyum-senyum sendiri”, sapaku pada sahabatku itu.
“ Ihh Billa..orang gua lagi chat nih sama Baim. Gue kangen banget sama dia. Gak kerasa udah hampir dua bulan dia di Malaysia”, tiba-tiba raut sedih muncul diwajah wanita mungilnya itu. Kurangkul sahabatku itu. Mencoba menghiburnya.
“ Udah jangan sedih ah. Jaman udah canggih kali lo. Ada skype lo bisa kan tuh skype sama dia. Inget kalo dia liat lo sedih pasti dia disana kuliahnya gak tenangkan. Ayo semangat ah Milly”, kemudian ku cubit pipi sahabatku itu. Kulihat ia tersenyum. Lalu akupun bangkit dari tempat duduk memesan makanan. Aku berjalan ketempat stand bakso. Memesan semangkuk bakso dan segelas jus mellon. Ketika aku ingin kembali ke mejaku, tiba-tiba seorang lelaki memanggilku. Aku menengok kearah suara itu datang. Seketika wajahku seakan memerah melihat lelaki itu. Lelaki dengan kemeja biru dan jeans dan membawa sepuah nampan yang berisi makanan.
“ Hai Bil.. sama siapa? Makan bareng yuk”, sapa lelaki itu sambil tersenyum kepadaku.
“ Hai Dimas. Gue sama sahabat gue tuh yang lagi duduk disana. Gabung aja yuk sama kita”, sambil berjalan ke mejaku Dimas mengikutiku. Terlihat wajah Milly terkejut melihat lelaki dibelakangku ini seolah-olah iya sedang bermimpi. Lalu ku persilahkan Dimas untuk duduk dan memperkenalkan sahabatku.
“ Oiya Dim. Ini sahabat gue dari kecil Milly. Milly ini Dimas lo taukan dia siapa”, terlihat Milly masih tak percaya. Dimas mengulurkan tangannya dan berkenalan dengan Milly.
“ Bil.. ternyata yang lo bilang di acara musik waktu itu bener? Ini cowok yang lu ceritain? Dimas drummer band kampus kita”, Milly sangat antusias melihat Dimas satu meja dengan kami. Dimas pun tersenyum melihat tingkah sahabatku ini. Tak lama pesananku datang. Kami makan sambil berbincang bersama. Tak terasa kami harus kembali ke kelas kami masing-masing. Ketika aku bangkit dari tempat dudukku Dimas berdiri disampingku dan berbisik..
“ Pulang bareng ya”, ia berbisik sambil mencubit pipiku. Aku tersenyum dan mengangguk. Milly yang melihatnya menghampiriku dan mencubit lenganku. Dimaspun berlalu ke kelasnya.
“ Bil.. lo harus cerita sama gue gimana lo bisa deket dan kenal sama Dimas. Billa itu Dimas. OMG”, aku hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan sahabatku itu. Ia mengejarku dan memaksaku becerita. Akupun berjanji akan menelponnya nanti malam untuk bercerita. Awalnya ia ingin mendengar langsung cerita dariku namun aku harus segera masuk kelas.

Di tengah jam perkuliahan ponselku berdering. Kulihat ponselku. Ada pesan masuk dan aku membukanya.
Dimas : cubby keluar jam brp?
Me    : sejam lgi. Jam 5 dim..
Dimas : oke, kita sama. Jangan lupa nanti gue tunggu di parkiran ya
Me    : oke sampai nanti ya :D
Dimas : oke :D

Ternyata itu pesan dari Dimas. Akupun tak sabar menunggu jam pulang tiba. Kulihat jam didinding begitu lama berdetik. Tiba-tiba kuterbayang wajah Dimas yang sedang tersenyum padaku. Kembali jantungku berdetak kencang. Wajahku merona. Apa iya aku jatuh hati sama Dimas? Oh rasanya sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini sejak lama. Dimas hadir membawa kembali senyuman dan kebahagiaan yang dulu sempat hilang.

Jam perkuliahan pun berkhir, akupun segera keluar kelas dan menuju parkiran. Dari kejauhan kulihat seorang pria sedang bersandar disebuah mobil berwarna hitam itu. Ia melambaikan tangannya ke arahku. Akupun membalas dengan melambaikan tanganku. Dimas lalu membukakanku pintu dan mempersilahkanku masuk.
“ Oke kemana kita nih? Lo gak buru-buru pulangkan? Kita jalan dulu yuk”, sambil menyalakan mesin mobilnya Dimas mengajakku jalan.
“ Hemmm.. gak ada ko, gua gak buru-buru sih. Jalan kemana ya yang asik?”.
“ Bagus deh kalo gak buru-buru. Kita nonton yuk ada film baru nih katanya seru, gimana?”.
“ Wah boleh tuh. Yaudah kita nonton aja”.
Kamipun melesat menuju sebuah mall yang terdapat sebuah bioskop didalamnya. Tak lama sekitar 10 menit kamipun tiba dan memasuki area parkir mall tersebut. Dimas memarkir mobilnya dan turun membukakanku pintu. Ia sangat memperlakukanku dengan manis sekali, membuatku semakin menyukainya. Disekitar area parkir tiba-tiba pandanganku tertuju kepada sepasang kekasih yang sedang berjalan dan bergandengan mesra itu. Sial. Itu Andi dan pacarnya. Oh hatiku tiba-tiba terasa teriris melihatnya. Dimas yang sedang berjalan disampingkupun melihat heran diriku.
“ Bill..lo kenapa? Ko muka lo asem gitu sih? Liatin siapa sih?”, sambil bertanya ia melihat kemana arah pandanganku.
“ Lo kenal mereka, bil? Apa itu mantan lo ya?”.
“ Iya dia Andi mantan gua. Kita janagn nonton disini deh yuk, gua males kalo ketemu sama dia”, akupun memutar balik tubuhku erjalan kembali ke mobil Dimas.
“ Ehh, ngapain sih? Udah tenang aja ada gua ini. Ayo ah jangan cemen deh”, Dimas menarik tanganku dan menggandengnya menuju pintu masuk mall itu. Kamipun berpapasan dengan Andi dan pacarnya. Dimas kemudian merangkul pinggangku dan mendekatkan ke tubuhnya. Sambil berbisik kepadaku.

“ Sorry gua gak maksud. Relaks aja ya”, akupun menganggukkan kepalaku tanda menyetujuinya.

Andi menengok kearahku dan Dimas. Dia mengkerutkan dahinya seakan terkejut melihat mantannya ini digandengan seoranng lelaki. Ketika ia ingin menghampiriku, perempuan disebelahnya menariknya masuk ke sebuah toko sepatu. Akupun pura-pura tak melihatnya dan berlalu menaiki eskalator bersama Dimas. Sampai di depan bioskop Dimas masih merangkulku. Entah saat ini aku harus merasa bahagia atau sedih. Aku memang sudah melupakan Andi tapi kenapa kita harus bertemu lagi setelah sekian lama.
“ Bill.. gua beli tiket dulu ya, lo tunggu disini gapapa ya”, Dimas melepaskan rangkulannya dan berjalan menuju meja tempat pembelian tiket. Akupun menunggu disebuah sofa berwarna merah dan panjang. Serta beberapa orang yang juga duduk di sampingku. Tak begitu lama Dimas menghampiriku. Lalu duduk disampingku. Ia menatapku seakan ada sesuatu yang ia tanyakan namun raut ragu muncul diwajahnya dan kemudian memalingkan wajahnya dariku.
“ Ada apa dim? Kayanya ada yang lo mau tanyain?”, aku pun menyentuh pundaknya dan bertanya.
“ Hemm.. gapapa sih cuma mau tanya kalo boleh tau tadi itu mantan lo yang terakhir kemarin?”. Akhirnya pertanyaan itu pun muncul darinya. Aku sudah bisa tebak kalau Dimas pasti menanyakannya.
“ Iya dia Andi mantan gua. Kami udah putus lama sekitar hampir 2 tahun yang lalu dan baru kali ini gua ketemu dia lagi sama dia.”
“ Emang putusnya kenapa? Sorry ni bukannya mau ngungkit masa lalu lo ya”.
“ Dia ngeduain gua”. Jawaban singkat dariku. Kemudian Dimas mengerutkan keningnya. Seakan merasa bersalah telah menanyakan hal itu.
“ Maaf ya gua gak bermaksud”, kemudian Dimas menggenggam tanganku sambil meminta maaf atas pertanyaannya. Aku pun hanya tersenyum dan mengangguk .